PINTU MISTERI YANG SEDIKIT TERKUAK

(lanjutan dari “Sibuk dengan Diri Sendiri”)

Aku berangkat ke psikolog atas saran salah seorang sahabat dekatku. Aku hanya menanyakan psikolog yang rekomended untuk ditemui olehku tanpa kujelaskan pada sahabatku tentang masalahku apa. Akhirnya aku mendatangi psikolog dalam keadaan galau segalau galaunya di titik terdalam, sendirian tanpa ditemani siapapun dan tanpa ada yang tahu. Bisa menyebutnya ini sebagai misi rahasia.

Aku disambut dengan sapaan ramah dan ditanya apa yang bisa dibantu. Jujur aku gugup dan ragu harus menjelaskan apa dan memulai dari mana. Tapi aku pasrah membiarkan sesakku kualirkan sedikit demi sedikit semampuku. Kugambarkan sekilas dan aku disarankan mengikuti prosedur pemeriksaan psikologis dengan anggaran biaya sekian sekian yang harus kusiapkan.

Bismillah aku merasa siap demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak takut dengan diagnosa apapun. Meski aku masih belum terlalu yakin apakah langkahku benar. Meski masih ada kelebatan dibenakku bahwa orang yang konsul ke psikolog itu biasanya tidak mungkin bisa sendirian dan pasti diantar seseorang atau salah satu keluarganya karena pasti dalam kondisi sakit jiwa atau bahkan hilang ingatan. Tapi aku tak peduli. Aku lanjutkan saja niat dan inginku meminta bantuan psikolog untuk mendeteksi kondisi psikisku.

Tahap pertama aku mengikuti pemeriksaan psikologis dengan beberapa jenis alat tes. Singkat cerita kulalui seharian penuh untuk prosedur tahap pertama berupa tes tulis dengan beraneka pertanyaan dan instruksi. Aku paham beberapa jenis tes karena latar belakang pendidikanku pernah mempelajari psikologi walaupun hanya satu sisi yaitu psikologi pendidikan. Selesai hari itu aku pulang setelah sebelumnya membuat jadwal untuk pertemuan berikutnya.

Sebuah misi rahasia diri kulalui. Aku lagi lagi sendirian mencerna semuanya. Meski suamiku baik dan akan mengerti jika aku bicara, namun aku pikir aku ingin membicarakannya suatu saat jika sudah ada gambaran supaya lebih rinci bisa kujelaskan. Bukan maksudku menutup-nutupi. Kami biasa terbuka namun untuk kali ini aku lebih memilih sementara diam dulu agar tidak membuatnya cemas memikirkan ku bahkan mungkin tak akan menyangka aku membutuhkan psikolog.

Hari berlalu. Tibalah pertemuan kedua untuk sesi konsultasi. Aku masih sendirian mengendarai motorku menuju tempat praktek psikolog dengan tetap membawa perasaan gentar tak tentu arah. Dua jam sesi konsultasi aku lalui. Aku diminta mencurahkan pikiran dan perasaanku tanpa perlu harus teratur. Tidak apa bercerita meloncat-loncat dari tema A ke tema B yang penting ungkapkan saja. Durasi tersebut ternyata tidak cukup, namun tetap harus terhenti mengingat aku kelelahan bicara terus dan aku pun harus mendengarkan psikolog memberikan masukan atas kondisiku.

Dari sedikit dialog dalam sesi konsultasi itu aku mulai sedikit paham langkah apa yang harus ku tempuh meski belum bisa melihat hasil diagnosa akuratnya seperti apa. Pada pertemuan ini aku belum diperlihatkan hasil pemeriksaan psikologis. Rencananya akan disampaikan melalui email untuk dibahas pada pertemuan berikutnya. Intinya untuk mengetahui secara menyeluruh tidak cukup dengan satu dua kali pertemuan begitu saja tapi mesti beberapa tahap sesuai kondisi yang tergambarkan melalui hasil pemeriksaan psikologis.

Tak apa, sedikit pintu misteri mulai terkuak. Aku mulai mendapatkan setitik cahaya meski belum sepenuhnya terang. Aku bersiap bersabar dan bersemangat meski tertatih tatih. Lalu bagaimana hasil pemeriksaan psikologiku dan diagnosa apa yang ditujukan padaku oleh psikolog? Terapi apakah yang kudapatkan semestinya?

Kita tengok di sajian tulisanku berikutnya ya…

NubarNulisBareng/Lina Herlina