PILIH MELUPAKAN ATAU MENERIMA?

Sebagai manusia yang dianugerahi jaringan otak untuk menyimpan memori, tentu memiliki simpanan ingatan tentang banyak hal dalam kehidupan.

Jika diibaratkan, mungkin otak manusia bagaikan rumah yang di dalamnya bisa berisi perabotan kenangan dan berbagai aksesories peristiwa yang telah terjadi. Ada yang pandai menatanya sehingga enak dirasa, ada pula yang mungkin berantakan di sana sini hingga terasa sesak dan tidak nyaman.

Yang pasti, jika sudah terjadi, semua peristiwa akan terbentuk menjadi rekaman demi rekaman yang secara otomatis menjadi penghuni ingatan. Mungkin tidak sedikit yang sejenak langsung terlupa dan tidak terekam, namun sebagian diantaranya banyak juga yang tertancap dengan kuat bahkan walau kita tidak menginginkannya.

Ya, otak bisa menjadi rumah ilmu yang akan menuntun kita bertindak dan berperilaku sesuai dengan keilmuan yang dimiliki. Otak juga bisa menjadi rumah kenangan manis yang bisa membuat kita bahagia saat mengingat kesan kesan baik tentang peristiwanya. Tapi otak pun bisa menjadi sumber trauma atau kesakitan jika kita pernah mengalami kejadian buruk di masa lalu.

Masalah terjadi biasanya jika kita tidak bisa menata pikiran untuk mengelola kapan para penghuni ingatan ini diperlukan kehadirannya sebagai pendorong atau penggerak  hal positif  dan kapan harus diabaikan karena memicu munculnya perasaan negatif. Mana yang lebih dominan muncul dalam keseharian kita  diantara yang membahagiakan atau yang menyedihkan ini, hanya kitalah yang merasakan dalam setiap waktunya.

Bisa saja sesuatu hal dirasa mengganggu bahkan membahayakan jika kita mengingatnya terus menerus. Rasanya begitu ingin melupakan tapi ternyata tidak mudah dan bahkan tidak mungkin bisa terlupa. Kesakitan saat dikecewakan yang sudah terjadi berpuluh tahun silam masih saja menari-nari hingga kini, sungguh menyusahkan. Bukan saja seperti kerikil diantara nasi yang sedang kita kunyah yang mengganggu tapi mudah dibuang, hal hal pahit ini sangat merepotkan karena dibuang tak bisa, diingat tak enak dan dibiarkan begitu saja pun tetap mengganggu. Lalu harus dibagaimanakankah?

ACCEPTANCE. Ya, seni menerima. Inilah yang baru saya temukan alternatif cara mengalihkan konsentrasi atau fokus dari ketidaknyamanan menjadi lebih nyaman. Bersikap menerima dan menyimpannya di tempat yang aman dalam otak adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengelola ingatan buruk masa lalu.

Ingatlah bahwa disaat kita menyerah karena tak bisa melupakan, ambillah jalan untuk menerima dan menata kembali setiap ingatan agar tersimpan rapi dan terasa lebih indah dirasa. Mungkin dengan berbicara kepada seseorang yang diyakini akan membantu. Dalam hal ini seolah kita meminta asisten rumah tangga untuk membereskan isi rumah kita disaat kita tak sanggup membereskannya satu persatu sendirian. Mintalah bantuan untuk mempertimbangkan ingatan mana yang harus dibuang dan mana yang tidak bisa dibuang tapi cukup merapikannya.

Wujudnya bisa menjadikan cerita indah dalam sebuah karya dan kita menjadi tokoh utamanya, atau apapun yang dapat menunjukkan sikap menerima dan memodifikasinya menjadi perilaku positif. Menerima bahwa semua sudah terjadi, tak bisa dihapus, tak bisa kembali dan tak bisa memperbaiki. Jangan sia-siakan energi untuk berjuang melupakan, tapi sediakanlah ruang yang lebih luas di otak kita untuk menerima dengan manis. Walau awalnya sulit tapi optimislah dan yakin kita akan mencapai keberhasilan pada taraf menerima dengan ikhlas.

Seperti sebuah pilihan keputusan manakah diantara melupakan dan menerima yang akan kita lakukan atas ingatan sedih? Yups …semangat berjuang menerima demi kebaikan kehidupan diri kita ke depannya.

NubarNulisBareng/LinaHerlina