PIKIRAN BERCABANG, SEPERTI APAKAH ITU?

Pohon yang bercabang alangkah indahnya dilihat. Ranting-ranting yang tampak berkelok ke sana ke sini seolah membentuk karya seni yang menakjubkan. Tapi jika yang bercabang adalah pikiran manusia, adakah letak keindahannya dimana? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari bertanya lebih dulu, bagaimanakah rasanya ketika pikiran bercabang?

Bagi sebagian orang yang percabangan pikirannya positif dan cenderung menggambarkan optimisme dan keberhasilan, tentu akan menghasilkan multi karya yang “dianggap” hebat. Namun jika pikiran yang bercabang berisi aneka masalah dan kesibukan yang merepotkan, tentu tidak mengenakkan bukan? Ya, saya bisa katakan demikian karena saya pernah mengalaminya bahkan sering. Setiap pagi yang semestinya disambut ceria, malah cemas dengan kebingungan karena harus mengerjakan apa dulu diantara pilihan berbagai tugas negara yang terhidang di depan mata.

Bukan tidak bangga jika suatu hari saya mungkin akan mendapat gelar ibu hebat, ibu multi talenta yang serba bisa. Bukan tidak mau mendapat pujian jika saya mampu melahap aneka kesibukan yang berhasil menghadirkan suasana rapi damai dan tentram. Tapi untuk apa semua anggapan mengesankan itu jika jauh dibalik semua hasil, tersisa perasaan lelah, letih, bahkan kosong dan hampa.

Ya, pikiran bercabang ternyata menusuk sana sini bagian rongga rongga nafas kehidupan. Jika berhasil menyiapkan sarapan pagi, saya mungkin gagal membereskan rumah. Jika sukses menyetrika, mungkin saya kalah karena tak dapat mencuci piring. Jika aman damai cucian baju, kamar tidur bersih, masakan tersaji lengkap, sudah dapat dipastikan tiba tiba ruang tamu dan teras depan berantakan oleh ulah krucil krucil yang luput dari perhatian saat bermain, belum lagi pertengkaran mereka yang “menghidupkan” suasana. Owh …

Yah, begitulah cabang-cabang pikiran yang terjadi. Ini hanyalah sebagian kecil suasana di pagi hari. Belum kalau tiba saatnya makan siang, tiba saatnya suami pulang kerja, tiba saatnya menjelang tidur atau mungkin jam-jam belajar anak-anak di masa pandemi ini. Masya Allah, keseharian yang tak bisa luput dari pandangan. Semua tanggung jawab indah anugerah tuhan yang harus disikapi dengan perjuangan menemukan penerimaaan dan rasa ikhlas.

Pernah sabar, pernah bersyukur, tak jarang mengeluh bahkan meluapkan amarah. Berbagai emosi telah pernah mewarnai. Semakin direnungkan, semakin mencoba dimengerti. Alhamdulillah pencerahan datang bahwa mengapa kita merasa semua unsur kehidupan kadang seolah selalu tergambar sebagai masalah? Jawabannya adalah karena kita kurang tahu ilmunya. Ya, saya berupaya melakukan pencarian ilmu dan jurus apa yang bisa saya kuasai untuk menghalau pikiran bercabang ini. Sebab masalah memang sebegitulah adanya akan datang setiap hari dan terasa berat. Jika ingin menjadi ringan maka gerakkanlah diri sendiri untuk mempelajari jurus untuk mengatasinya.

Baiklah, pencarianpun dimulai. Awalnya saya mencoba memanajemen waktu dengan bangun sepagi mungkin. Namun belum juga mencapai titik kenyamanan yang pas. Setelah berbagai upaya, satu hal yang saya temukan adalah tentang penerimaan dan fokus. Ya, saya harus belajar menerima semua kenyataan sebagai sebaik-baiknya kemampuan saya. Tidak berekspektasi tinggi, tapi juga tidak abai sama sekali. Apapun baik buruk yang terjadi saya harus menerima. Yang terpenting saat menghadapi bercabangnya pikiran, putuskanlah fokus pada satu kegiatan prioritas dengan resiko apapun. Tak usah meresahkan ketidaktercapaian yang lain.

Jika sedang menyiapkan sarapan, tuntaskanlah sarapan hingga selesai terhidang. Abaikan alat alat masak yang berantakan atau cucian yang tidak tersentuh. Belajar tega dan tak memaki ketidakmampuan diri. Berlatih fokus hingga tercapai satu dulu yang paling penting diprioritaskan hingga tuntas.

Jika sedang menidurkan anak, fokuslah tuntaskan hingga anak benar-benar yakin sudah tertidur. Abaikan dulu membalas WA walau sudah janji akan menyapa di jam tidur anak. Biarlah dianggap sahabat yang tak perhatian. Tak perlu baper jika tidak bisa menjelaskan ini kepada seseorang di sana yang tak terbalaskan wa nya. Fokus dan tegas memang harus dilatih. Lama-lama semoga terbiasa, saya pun masih belajar dan bahkan sedang didampingi mentor serta sedang tergabung dalam grup motivasi bersama teman-teman yang seperjuangan mengatasi berbagai masalah emosi.

Begitulah. Pikiran bercabang negatif memang harus diputuskan ranting-rantingnya. Jikapun pikiran bercabangnya positif, jangan lupa suplemen jiwa yang bagus agar stamina berkegiatan positif pun terjaga dan benar benar menghasilkan karya terbaik. Marilah mendeteksi diri, apakah pikiran bercabang yang sering hinggap banyak yang positifnya atau negatifnya? Dan mari semangat mencari solusinya dengan mensuplai ilmu untuk mengatasinya dengan cantik dan indah. Selalu ada jalan keluar jika kita mau mengetuk pintu pintu yang terkunci. Semoga Tuhan memberi jawaban dari setiap kesulitan pertanyaan kita dalam menjalani kehidupan ini. Aamiin.

‘nNa230821

NubarNulisBareng/Lina Herlina