Ulang Tahun yang Sunyi

Sabtu, 4 April 2020 adalah hari ulang tahun anak lelakiku. Tepat 3 tahun yang lalu, di hari ini (tepatnya di tengah malam) aku terdampar di ruang operasi untuk melahirkan putra keduaku.

Tiada kata yang bisa kuucap selain rasa syukur yang mendalam karena bocah lelaki ini lahir dengan selamat dan aku bisa pulih dari luka lahir (dan batin) setelah melahirkan dengan jalan bedah sesar.

Tanggal ulang tahunnya sudah kucatat jauh-jauh hari di agenda tahunanku. Ulang tahun Mas Ihsan. Demikian bunyinya. Rencananya, aku akan pesan kue ulang tahun bertema Tayo si Bis Kecil seminggu sebelum hari H.

Tidak ada tradisi pesta ulang tahun di keluarga kami. Paling hanya berkumpul sekeluarga untuk mengucap syukur seraya berdoa untuk keberkahan usia the birthday boy. Kue ulang tahun hanyalah simbol, sekaligus bahan makanan yang siap disantap selesai berdoa.

Tahun ini ulang tahunnya terasa berbeda. Tiada kue ulang tahun yang dipajang di atas meja. Belum ada lilin yang menyala dan ditiup selepas mengucap doa.

Ihsan mungkin tak tahu perbedaan ini. Jangankan itu, hari ini ulang tahun pun, dia mana paham. Tetapi, hatiku kelu. Di saat bahagia macam ini, hati kami terbelenggu.

Harusnya saat ini kami bisa berkumpul dan tertawa bahagia. Merekam momen dalam memori kamera yang siap diputar ulang saat ia dewasa.

Ah, mungkin saja ini pelajaran dari Yang Maha Kuasa. Pasti ada hikmah di baliknya. Semoga bisa mendewasakan sikapnya nanti.

Ada saatnya hidup ini harus prihatin. Demikian petuah nenek moyang kami. Kami harus berempati dengan kondisi dunia yang sedang merana. Akibat virus korona yang menjadi pandemi di dunia.

Gusti, di hari ulang tahun yang sunyi ini, kupanjatkan doa pada-Mu. Semoga panjang umur dan sehat selalu anakku (serta keluarga kami).

Semoga jabang bayi yang kini mulai tumbuh menjadi kanak-kanak ini senantiasa mebdapat rahmat dan perlindungan dari-Mu. Selalu Engkau bimbing ia dalam setiap liku perjalanan hidupnya. Engkau selamatkan ia dan kami sekeluarga di dunia dan akhirat-Mu, serta Engkau jadikan kami termasuk dalam golongan hamba-hamba-Mu yang beruntung.

Gusti, semoga wabah korona ini segera berakhir. Semoga Engkau izinkan kami bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala. Bisa beribadah, bekerja, dan bersekolah lagi seperti semula. Bahkan, dengan kualitas yang lebih baik lagi.

Amin.

rumahmedia/ nuralfiy

Sumber: www.bundajelitaku.blogspot.com

Sumber foto: pexels.com