Pesan dari Kelalawar

Dahulu aku memiliki keluarga besar yang hidup tenang dan damai.
Kami memilih beraktivitas malam hari agar lebih fokus dengan tugas yang diemban. Keluargaku dengan marga Optomops dan marga Neoptenus bersahabat baik. Masih banyak sih marga yang lain juga, namun di sekitar kami, dua marga inilah yang mendominasi.
Mungkin mirip kalian juga, yang punya kampung Sidamanik, Simalungun, Flores, atau Melayu.

Sekarang aku dan hampir semua marga lainnya agak takut keluar rumah. Sebab kami dengar kabar bahwa sudah cukup banyak kalian, manusia, yang memburu kami. Menjadikan tubuh kami sebagai bahan makanan.

Duuuhhh, manusia.
Kalian kadang tak bisa ditebak maunya. Kebebasan berpikir yang kalian miliki menjadikan ide-ide yang lahir liar dan tak terkendali. Memburu kami untuk disantap.

Bagaimana jika keserakahan kalian menjadikan kami semua habis?

Lalu siapa yang akan melakukan penyerbukan. Secara manusia tergila-gila dengan durian, mangga, rambutan dan buah lainnya. Ada 52 jenis tanaman yang kami bantu melakukan penyerbukan dan penyebaran bibitnya. Bahkan jika hama wereng datang menyerang padi-padi yang ditanam, kamilah pasukan pemusnahnya.
Apakah kalian sanggup melakukan tugas itu?

Kini aku dengar kalian mendapat pelajaran berharga, ya? Maafkan. Sama sekali tak ada maksud membuat kamu, manusia menderita.
Entah dari marga mana yang telah kalian nikmati dalam sajian yang membawa petaka. Aku dan teman-temanku di sini tidak tahu. Kami hanya bisa berduka untuknya dan untukmu.

Esok aku berharap, kita bisa hidup berdampingan. Toh kami tak pernah hadir pada aktivitasmu di siang hari. Kami menghargaimu, dan berharap hak hidup yang kami miliki juga kalian hargai.
Sesama makhluk kita punya tugas masing-masing. Punya kewajiban dan hak masing-masing. Ekosistem itu punya aturan, punya jaring kendali yang telah digariskan. Sungguh mulia jika kita tetap dalam alur yang telah digariskan. Pasti ada rahasia, mengapa kita tidak hadir dalam waktu bersamaan. Mungkin agar kita tak berjumpa. Dan kalian tak perlu mencari hanya karena rasa penasaran yang mengganjal hati.

Mari berpasrah.
Segala hal yang terjadi semua atas kehendak Sang Pencipta.
Aku dan kamu, hanya pion-pion yang diperjalankan-Nya.
Mari mengambil hikmah.
Hidup berdampingan dan saling menghargai.
Aku dengan tugasku dan kamu dengan tugasmu pula.

Nulis Bareng/Maulina Fahmilita