Perutku dan Perutmu

By: Denok Muktiari

Tak pernah bosan rasanya berbagi pengalaman hidup. Karena memang pelajaran yang paling berharga adalah pengalaman. Dan harga dari sebuah pengalaman lebih dari sekedar materi.

Saat ini kita memang sedang di rumah saja. Meminimalisir kegiatan di luar rumah. Bahkan jangan keluar rumah kalau tidak penting banget. Tapi dengan menutup pintu rumah tidak dengan mata dan telinga kita. Mata ini masih bisa melihat dan telinga ini masih bisa mendengar banyak suara jeritan di balik pintu yang tertutup.

Secuil cerita dari seorang yang biasa tidur di emperan teras toko. Pekerjaan biasanya sebagai tukang pijat panggilan. Namun saat wabah ini datang tak kunjung ditemuinya pelanggan. Ya beginilah menunggu di teras toko. Siapa tahu masih ada yang membutuhkan jasanya. Di mana semua orang sibuk menutup rapat pintu rumahnya, dia bahkan tak tahu pintu mana yang bisa ditutup, karena memang tak ada pintu.

Kemarin ada orang kaya yang berbagi makanan. Nasi kotak yang siap di santap. Alhamdulillah. Saat tak ada lagi lembaran rupiah, dia selalu berharap ada orang dermawan yang berbagi rezeki dengannya. Alloh memang Maha Pemberi Rezeki. Selalu ada jalan.

Hidupnya santai. Tak perlu banyak mengeluh. Dijalani saja. Saat himbauan stay at home terus digembar-gemborkan, saat banyak petugas kepolisian mengadakan razia mengingatkan warga untuk tinggal di rumah saja dia pun hanya bisa apa?

“Aku cuma takut sama Alloh Pak. Aku ngono ora duwe omah. Terus yo apa?”

Itu jawabnya saat Pak Polisi mengingatkan. Tapi belum ada solusi.

Hari ini kembali ada seorang dermawan yang berbagi sembako. Sekantong plastik hitam berisikan beras, minyak goreng, mie instan, dan gula. Alhamdulillah. Pikirnya, apa yang bisa diperbuat dengan sembako ini? Jangankan untuk masak mie atau masak air. Kompor pun tak punya.

Pergilah dia ke sebuah warung dan menukarkan sembako tersebut dengan selembar kertas warna biru. Lima puluh ribu rupiah. Belum sampai masuk saku, di depannya sudah ada beberapa sahabatnya yang menunggu dengan tatapan iba.

“Bagi yo Mat, gawe tuku sega.”

Ditukarkan kembali uang tersebut dengan lembaran yang lebih banyak. Lima ribuan. Dia bagikan ke sahabat-sahabatnya. Tinggal selembar yang tersisa. Padahal jika dipikir, dia pun butuh uang itu untuk terus hidup di tengah wabah yang melanda. Tapi apakah tega jika hanya dinikmati sendiri?

Inilah fakta. Siapa pun bisa menjadi dermawan. Tak perlu menunggu kaya. Perutku dan perutmu mau diisi apa? Tapi jangan lupa ada saudara kita yang menunggu di sana.

Malang, 06 April 2020

One comment