PERMATA HATI

PERMATA HATI

Selepas sholat ashar, aku berbaring santai di kamar. “Bunda!” si kecil Nejad masuk kamar, nampak ragu karena dia tau kalau bundanya sedang tidur dia tidak berani mengganggu.

“Ada apa Nak, masuklah”

Nejad mendekat dan memeluk dan menciumku.

“Bunda, lagi tidur?”

“Nggak, bunda hanya istirahat saja.”

“Nejad pijitin ya!”
Aku tersenyum, membiarkan jari-jari mungil anakku memijit kakiku.

“Emmh, enak banget” pujiku. Perlahan pijitannya berhenti. Dia menyentuh telapak kaki ku. kuintip apa yang Nejad lakukan. Jari kaki ku satu persatu dia gerakkan. Lalu menelurus ke telapak kaki kanan. Lalu yang satunya lagi.
“Kenapa Nak? Apa kamu mencari surga disana?” aku menebak apa yang dia cari.

“Iya, bunda. Kata Pak ustadz waktu tadi di sekolah, katanya surga ada di telapak kaki ibu.”

Anakku masih berumur 5 tahun, namun memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mungkin anak seusia itu memang seperti begitu. Berkali-kali mengganti remote control TV, apalagi mainannya, pasti tidak akan bertahan sampai 24 jam, karena penasaran.

Kembali ke Nejad aku mengajaknya untuk duduk di sebelahku.
“Surga di telapak kaki ibu, bukan berarti surganya ada di kaki bunda, maknanya ..”

“Seorang anak harus berbakti kepada ibunya.”

“Artinya, kalau Nejad nurut sama Bunda, maka pahalanya adalah surga.”
“Nejad baikkan sama Bunda? Nejad suka nurut kalau disuruh sarapan kan?” katanya sambil tersenyum. Ya, iyalah wong menu sarapan dia yang menentukan, dan gak boleh nggak alias wajib kudu aya ayam goreng kesukaannya. He he he.

Aku teringat Kakak nya Nejad dulu waktu masih kecil, si Kaka ngamuk sambil nangis “Bunda, tolong jangan bikin Kaka marah!” “Lho, kok begitu?” “nanti, kalau Kakak marah, Kakak kan jadi berdosa sama bunda, kalau Kakak masuk neraka, berarti itu salah bunda!” mendengar itu, aku yang tadinya mau marah jadi senyum dan tertawa sendiri. Duh anak-anakku.

Ku peluk Nejad. Ku usap kepalanya seraya berdoa,

“Robbi habli minasholihin. Ya Allah, Tuhanku. Berilah kami keturunan yang sholih.”

“Ya Tuhan kami, anugerakanlah kepada istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)