Perlu Nggak sih punya sahabat

Istirahat sejenak dari work form home, aku memilih duduk di teras belakang. Memandang awan-awan yang menampilkan berbagai ilustrasi.

“Bun, apakah setiap orang harus punya sahabat?” Adis duduk di kursi di depanku. Maskernya masih terpasang.

“Sahabat itu yang seperti apa sih?”

“Itu lho Bun, teman yang paling dekat dengan kita. Memahami kita, selalu ada buat kita.”

“Kamu punya?”

“Enggak ngerti, makanya nanya.”

“Siapa yang paling dekat denganmu?”

“Emmmm, kayaknya Bunda.” Adis menjawab sembari berpikir

“Yang memahami kamu?”

“Bunda.” Dan matanya tersenyum

“Yang selalu ada buat kamu?”

“Ahaa… ini mah Bapak. Bunda dulu selalu ada buat aku, tapi sejak pindah kerja ke Medan, Bapak yang selalu ada disisiku.”

“Berarti sahabatmu Bapak dan Bunda dong.”

“Tapi katanya sahabat itu dari teman Bun, bukan anggota keluarga.”

“Hmmm, sebenarnya enggak lah. Bapak dan Bunda juga bisa jadi teman kok. Tapi oke deh, jika sahabat itu dari teman, apakah kamu punya teman yang memahamimu?”

“Punya, beberapa.”

“Apakah mereka selalu hadir buat kamu?”

“Ya enggak lah Bun, kan dia di rumahnya, aku juga di rumahku, bagaimana bisa selalu hadir.”

“Kalau hadirnya kamu pahami secara fisik, ya sulit dong mencari teman yang masuk pada kategori sahabat.”

“Maksudnya?”

“Setiap kita pasti punya pengaruh pada orang lain, sahabatmu pasti juga punya pengaruh pada dirimu. Jika kamu punya ide dan ingin dapat dukungan, lalu kamu bercerita pada orang yang kamu yakini akan mendukungmu, maka kamu sudah mengategorikan temanmu itu sebagai sahabatmu. Sebab kamu yakin ia memahamimu dan mendukungmu. Atau jika kamu butuh pendapat, dan kamu memilih temanmu itu yang kamu tanya pertama kali, maka kamu sudah menyatakan ia memiliki pengaruh atasmu. Itu yang dimaksud dengan hadir untukmu. Tidak harus secara fisik lho.”

“Ohh. Kalau aku tidak memilikinya Bun? Normalkah itu?”

“Normal saja kok, nggak usah terlalu dipikirkan. Yang penting kamu menjalin hubungan, memiliki relasi dengan orang lain dan tidak bermasalah dengan hal itu. Tidak semua orang bisa langsung dekat dengan orang lain, lalu membuka diri. Banyak yang butuh waktu untuk membangun hubungan, apalagi menaikkan status hubungan dari teman menjadi sahabat. Ujiannya banyak tuh.”

“Maksudnya ujian Bun?”

“Setiap kita biasanya punya teman, di sekolah, di tempat kursus, atau kayak bunda di kantor. Ada teman yang hanya sekedar say hello saja, berbagi cerita yang sifatnya umum dan orang lain juga tahu, ada teman yang mungkin bisa diajak ngegosipin teman yang lain, namun tidak pernah cerita tentang diri sendiri. Nah ada juga teman yang dengannya kita klik, bisa cerita semuanya, namun dianya nggak begitu ke kita, ada juga yang timbal balik. Menurut bunda yang terakhir itulah sahabat. Ada rasa saling percaya, jadi bisa cerita apa saja. Ujiannya ya dalam menjaga kepercayaan itu. Persahabatan yang langgeng yang saling menjaga dan menghargai.”

“Terlalu ribet Bun, aku pakai feeling aja, kalau aku rasa sreg ya aku cerita, kalau enggak ya aku diam saja. Gitu gimana Bun?”

“Ya silakan, kan kamu yang berteman.”

“Ok, aku rasa nggak apa-apa deh belum punya sahabat juga, aku kan punya Bunda dan Bapak, gimana Bun?”

“Begitu juga boleh. Kalau ada apa-apa tinggal telpon lalu cerita, simpel kan.”

“Simpel Bun.”

Adis berlalu, dan meninggalkan aku yang berpikir.
Apa yang membuatnya bertanya tentang sahabat. Apakah ia sedang memilih teman-temannya untuk dijadikan sahabat atau kehilangan sahabat atau butuh sahabat?
Entahlah perlu kugali lebih dalam.

Memiliki sahabat mungkin jadi kebutuhan pada banyak orang, namun bisa juga tidak. Normalkah jika kita tidak punya sahabat?
Seringnya setelah menikah dan memiliki keluarga, hubungan dengan teman-teman sebaya berkurang kedekatannya, sebab fokus yang teralih pada keluarga. Kemudian menjadi puas dengan pasangan dan keluarga kecil yang dimiliki. Namun juga ada yang tetap menjaga intensitas komunikasi dengan teman-teman semasa lajang, atau menemukan teman yang nyaman dalam pergaulan setelah pernikahan, saling curhat dan berbagi beban.
Setiap kita punya cara masing-masing dalam membangun hubungan. Tidak ada kata normal dan tidak normal saat mengatakan ia punya sahabat atau tidak punya sahabat. Semua kembali pada kenyamanan masing-masing. Selama kita tahu yang kita mau dan nyaman disitu, ini lebih utama.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita