PERJALANAN OM YUS BLARAK

Bagian 02

Bukan karena tak menurut, bukan karena tak takzim pada orang tuanya, namun ingin membuktikan bahwa ia punya rencana dalam hidupnya.

Ia buktikan, ia lakukan sepenuh hati, sebab keputusan yang ia ambil kini adalah tanggung jawabnya.

Perjalanan**



Bakat seni terlihat ketika sekolah di Taman Kanak-kanak. Selalu di ikut sertakan dalam setiap lomba mewarnai. Pulang membawa piala, itu sudah hal biasa. Aihh.. sombong nya.. ha-ha
Hal itu terus berlanjut sampai ia duduk di Sekolah Menengah Pertama, selalu ia sabet juara, pulang tak pernah dengan tangan kosong.

Bangga nya, aku aja ikut bangga padahal hanya sebagai pendengar.
Di SMP inilah beliau merasakan benar-benar di tuntun, di ajari, di berikan ilmu sebagai seorang pelukis, mulai dari teknik dasar, cara mencampurkan warna, pemilihan kuas, kanvas, sampai hal printilan tentang melukis.
Sungguh beruntung.

Sampai beliau SMA pun seperti itu, bakatnya kian terasah, kian terlihat, dan ia mantapkan, seni adalah jalan hidupnya.
Ketika Ibu dan Bapak berkata lanjutkan kuliah, kini ia dengan pembuktian nya.

Tekad bulat dan semangat yang membara, yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu bersama dalam setiap langkahnya.
Mulai lah Om Yus ngamen, sekitar tahun 1988. Sebagai pengalihan, sebagai alasan, menyibukkan diri, bila bertemu dengan Bapak Ibu, yang obrolan nya selalu menjurus untuk sekolah lagi.

Berbagai kegiatan positif ia lakukan, pokoknya gak mau kuliah. Tapi cara menolak beliau halus dan unik.
Om Yus ngamen di Dinamika tahun 1988, terus ia lakukan hanya sebagai pengalihan, sampai kapan? Sampai ia benar-benar membuktikan kepada kedua orang tuanya.

Tahun 1994-1995 sekitar setahun ikut manggung ke Tegal. Ada yang unik dan teringat dalam benakku, bahkan terkadang bikin mesam- mesem sendiri. Om Yus ikut grup aliran rock-dut.
Nama grup nya Bombers. Keren gak tu? Keren lah masa enggak.. Bombers singkatan dari Bombong Bersama.
Seketika gelak tawa kami pecah, ide brilian sungguh.

Om Yus, masih dengan semangat ’45 nya menceritakan kisah-kisah lainnya. Sungguh aku makin tertarik, aku terbawa suasana, hingga kadang mimik wajah, hingga gestur seolah mewakili segalanya.

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu