Peringatan Tuhan dalam Himbauan Belajar, Bekerja, dan Beribadah dari Rumah

Tak terasa sudah hampir dua pekan saya dan keluarga menjalani pola hidup #DiRumahAja sebagai dampak merebaknya COVID-19 di Indonesia. Setelah sekolah resmi dinyatakan dalam status #BelajarDariRumah, saya dan anak-anak benar-benar mengisolasi diri di rumah. Tidak keluar rumah jika tidak mendesak. Bahkan, hingga saat ini anak-anak saya upayakan supaya tidak keluar rumah.

Sebenarnya sedih banget “dikurung” di dalam rumah begini. Meskipun kami tetap punya aktivitas pekerjaan dan kegiatan belajar bersama anak-anak, tapi tidak bebas untuk keluar rumah. Bisa sih keluar rumah, tapi kok eman, ya. Apalagi jika membaca timeline di media sosial tentang bahaya penularan COVID-19 dengan segala hoax-nya. Rasanya hati ini jadi miris dan kelu.

Baca juga: Apakah Hoaks Bisa Menghentikan COVID 19?

Belum lagi melihat perjuangan para tenaga kesehatan yang berjuang di garis depan dalam merawat pasien yang menderita sakit akibat virus Corona. Tak tega diri ini menafikan perjuangan mereka. Bahkan, para tenaga kesehatan ini banyak yang harus berjuang dengan menggunakan alat perlindungan diri (APD) yang kurang layak. Akibat minimnya jumlah APD di pasaran. Oleh karena itu, saya berusaha mematuhi anjuran pemerintah untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Dan kami patuhi anjuran para tenaga kesehatan untuk #StayAtHome.

Sumber foto: akun instagram dr. Gia Pratama

Sumber foto: akun instagram dr. Gia Pratama

Sebagai guru, saya mengajar dengan memanfaatkan aplikasi belajar yang diunduh dari Play Store. Anak-anak saya belajar dengan arahan dari gurunya melalui grup Whatsapp. Saya dan anak-anak menyetorkan bacaan Al-Quran ke guru mengaji melalui fasilitas voice note atau video dari Whatsapp.

Saya sangat bersyukur dengan kehadiran teknologi yang mempermudah pekerjaan dan kegiatan belajar kami. Tapi, di sisi lain, saya merasakan peringatan Tuhan yang tersirat dalam kebijakan bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah ini.

Saya biasanya begitu membanggakan kegiatan berbasis teknologi komunikasi melalui smartphone. Bahkan bisa dibilang kecanduan memegang gadget dalam kegiatan sehari-hari.

Belakangan ini, saya bosan lihat layar smartphone. Saya kangen mengajar di depan kelas dengan segala polah tingkah dan celotehan anak-anak (yang terkadang bikin mengurut dada).

Anak-anak saya sendiri rasanya juga mulai bosan belajar di rumah. Eh, mungkin lebih tepatnya emaknya ini yang bosan tiap pagi harus mengingatkan mereka untuk belajar, mengirim foto anak yang sedang belajar, dan hasil belajar mereka. Karena sesungguhnya di balik foto-foto itu ada omelan panjang disertai istighfar supaya tetap “waras” dalam memotivasi mereka belajar.

Saya kangen mengaji ditunggu dan disimak langsung oleh ustadzah yang datang ke rumah kami dua hari dalam seminggu. Saya juga kangen mengantar anak-anak mengaji di langgar (mushola) dekat rumah tiap sore hari.

Saya kangen celotehan anak-anak kecil yang mengaji bersama di mushola kecil itu. Meskipun biasanya ketika mau berangkat rasanya berat sekali. Terasa payah badan ini setelah bekerja dari pagi hingga menjelang sore. Lalu, saat ingin rebahan sudah tiba saatnya mengaji.

Saya rindu kumpul-kumpul dengan kekuarga besar, kerabat, dan sahabat. Rindu cipika-cipiki dan peluk erat sahabat dan saudara kami. Nggak hanya salaman di depan dada seperti sekarang ini. (Ups, khusus sesama perempuan, ya!)

Ya Allah, kami rindu semua itu. Jauhkanlah wabah Corona danwabah-wabah lainnya dari muka bumi ini. Ampuni kami atas segala dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari wabah ini. Agar kami dapat kembali beraktivitas seperti dahulu lagi. Amin yaa robbal’alamiin.

Sobat Rumedia, peringatan apa yang Sobat rasakan dari kegiatan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah ini?

rumahmedia/nulafiy

Sumber foto: pexels.com