Perempuan

Pesonamu lahir dari kelembutan dan ketulusan. Dedikasi yang luar biasa, saat engkau berani memutuskan menjadi istri dan ibu. Sebab ada ruang yang mungkin jadi pembatas, sehingga gerakmu tak lagi bebas.

Effortmu menjadi ganda saat profilmu engkau tambah sebagai wanita bekerja. Berbagai tuntutan engkau selesaikan. Banyak kerikil yang harus engkau singkirkan , saat berjalan dalam budaya patrilineal yang begitu kental. Tak mengapa. Selama restu suami telah kau dapatkan dan anak-anak tetap dalam pengasuhan, disanalah engkau menuliskan kebahagiaan

Resiko selalu ada, dalam setiap pilihan yang kita buat. Wanita adalah racun, begitu mereka meletakkan harkat. Wanita adalah sekolah bagi anak-anaknya, begitu juga mereka membuat cap. Standar ganda yang akan selalu ada.

Energimu akan terkuras, jika kau biarkan berbagai stigma merajai duniamu. Maka fokus saja pada tujuan yang telah kau gariskan. Fokus saja pada tuntunan yang engkau yakini. Tetaplah bergerak menuju kesempurnaan.

Maka pada akhirnya semua akan melihat. Engkau adalah manusia yang bermartabat. Menunaikan semua amanah yang telah melekat, walau kadang dalam.langkah tersendat, engkau selalu selesaikan apa yang telah diperbuat.

Puan-puan diseluruh mayapada. Banyak waktu yang kau berikan untuk dunia. Namun jangan lupa, miliki juga waktu untuk dirimu saja. Perkuat pikiran, teguhkan perasaan. Sebab jalan berliku adalah bagian perjalanan.

Untuk seluruh ibu dengan berbagai profesi. Yakinilah pilihanmu sumbernya dari hati, sehingga kasih sayangmu akan selalu menemani. Pada jejak-jejak yang kau tapakkan, semoga selau keberkahan yang engkau tinggalkan.

Aku juga perempuan yang memilih. Bergerak dalam dunia yang pemilih. Namun ketenangan hati akan menemani, sebab pilihan-pilihan ini adalah sedekah diri, saat diperkenan hadir dan memberi arti.

Nanti, pada masa ketika buah hatimu bicara. Pastinya akan bangga dengan ibu yang melahirkannya, membesarkan dan mengajarkan, tentang kesetaraan dan keseimbangan.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita