Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak

Foto: Negative Space on Pexels.com

Peran Ayah dalam pengasuhan anak memiliki tempat tersendiri dalam keluarga. Karena peran yang penting itulah, kehadiran Ayah diperingati dalam Hari Ayah. Di Indonesia, Hari Ayah Nasional dideklarasikan pertama kali di Pendapa Gede Balaikota Solo, Jawa Tengah pada tahun 2006.

Pemrakarsa peringatan Hari Ayah Nasional ini adalah para ibu yang tergabung dalam komunitas Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP). Gress Raja, ketua PPIP kala itu, menyampaikan bahwa Hari Ayah lahir karena figur ayah memegang peran penting dalam pembentukan karakter anak dan keluarga.

Kehadiran ayah, secara lahir dan batin, akan memperkokoh pembentukan karakter anak-anaknya. Ayah sebagai sosok pemimpin dan pelindung keluarga akan melekat dalam memori anak hingga mereka dewasa. Sebaliknya, ketiadaan sosok ayah akan menjadi penyebab anak menjadi pribadi bermasalah di kemudian hari. 

Menurut Bendri Jaysyurrahman, tokoh pegiat komunitas parenting Sahabat Ayah, ketiadaan sosok ayah dapat menyebabkan beberapa permasalahan pada anak. Anak menjadi sulit beradaptasi dengan dunia luar, cenderung minder, dan rendah diri. Anak juga memiliki kematangan psikologis yang lambat dan cenderung kekanak-kanakan. 

Ketika menghadapi masalah, anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah, cenderung emosional saat menghadapi masalah. Bahkan, anak-anak ini cenderung lari dari masalah. Anak-anak ini juga memiliki kecenderungan penyimpangan perilaku seksual. Misalnya, anak laki-laki cenderung feminim, sedangkan anak perempuan menjadi maskulin. Penyimpangan perilaku semacam ini bisa berujung kepada perilaku homoseksual.

Tanpa peran ayah dalam pengasuhan, anak menjadi kurang bisa mengambil keputusan. Mereka menjadi ragu-ragu dalam banyak situasi yang membutuhkan keputusan cepat dan tegas. Anak juga memiliki kesulitan belajar. Hal ini dikarenakan fungsi otak besar sebagai pusat berpikir tidak terstimulasi dengan baik. Sedangkan, kehadiran ayah sebagai stimulan absen dari kehidupan anak.

Bagi anak perempuan, ketiadaan ayah mempengaruhi perilakunya saat remaja. Anak perempuan cenderung gampang jatuh ke pelukan laki-laki lain. Mereka juga mudah galau dalam menjalani hubungan asmara.

Memang kehadiran ayah dalam pengasuhan anak mempengaruhi cara pandang anak terhadap dunia luar. Hal ini membuatnya cenderung lebih kokoh dan berani menghadapi kenyataan hidup. Namun, perlu kita tegaskan lagi, bahwa kehadiran ayah di sini adalah hadir secara jiwa dan raga. Bukan raganya saja yang hadir, tapi jiwanya asyik update medsos atau nge-game online, lho.

Nah, bagaimana ceritanya kalo si Ayah kebetulan harus tinggal berjauhan dengan anak istri?

Saat ini, fenomena keluarga yang terpisah jarak (long distance marriage-LDM) cukup fenomenal, ya. Keluarga yang menjalani kehidupan terpisah macam ini salah satunya dikarenakan tuntutan pekerjaan yang tidak mungkin membawa serta keluarga. Sedih sih, tapi harus bagaimana lagi. Sementara asap dapur mengepul dari sumber penghasilan yang mesti memisahkan jarak ini. 

Ada yang punya pengalaman unik tentang pengasuhan anak-anak dalam keluarga LDM macam ini? 

Please, share your story, Sobat Rumedia..

Rumahmedia/ nuralfiy

Sumber: www.emakmillenial.com