Pentingnya Mengasuh Inner Child (IC)

Sumber foto: Google edit by Meitu

Masih banyak yang belum tahu apa itu Inner Child (IC). Dari pengalamanku, ternyata pengaruh IC sangat besar dalam kehidupanku. Sudah berbagai cara kulalui dalam penyembuhan luka batin. Ibaratnya seperti mengasuh anak kecil dalam diri yang sudah dewasa atau bahkan tua.

Kendala masih saja ada bahkan semakin besar dalam menghadapi masalah. Luka batin tidak bisa sembuh sendiri kata pak Supri Yatno mentorku. Bahkan aku sendiri sudah penyembuhan batin dengan cara meditasi, masih saja terpancing emosi waktu luka batin parah dulu.

Setelah sembuh, masih ada saja akar kepahitan karena terluka baik yang disadari maupun tidak. Dengan berjalannya waktu dan aku belajar terus sekaligus praktek dari teori yang kudapat dari mentorku.

Aku semakin mengerti bila sedang terpancing emosi entah karena perkataan orang, musik, cara orang bersikap, berarti aku sendiri masih terluka. Aku masuk ke dalam hati sendiri, flash back, menerima luka itu dan melepaskannya.

Lama-lama semakin berkurang emosinya. Jadi aku mengubah fokus dari menyalahkan orang lain menjadi fokus dalam hati sendiri. Aku semakin menyadari bahwa luka batinku masih belum sembuh.

Hidup terasa ringan dan sehat secara fisik dan mental. Kalau mau mengikuti emosi, tidak ada habisnya. Luka batin itu sudah ada sejak dalam kandungan. Perlu waktu dan ketekunan untuk menyembuhkannya.

Seperti dalam tulisanku beberapa hari yang lalu berjudul Luka Batin Penyebab Kegagalan cara terbaik menjadi orang yang bermental tangguh dan bisa mengolah emosi dengan baik. Tetap semangat bagi para pembaca yang masih kesulitan dalam mengolah emosi.

Semua orang mengalami kesulitan yang sama, hanya kapan waktu terluka yang membuat cepat tidaknya masa penyembuhan. Perjuangan selalu ada hasilnya. Selamat Berjuang! Tuhan selalu menolong tepat pada waktu-Nya.

The Power of Thinkingđź’–

The Power of Forgivenessđź’–

Wenny Kartika Sari