Pengganti pelukan ibu

Riuh suasana metropolitan tak membuat mu gerah
Diselimuti debu bagaikan kabut tebal yang membuat gatal kering kerongkongan
Diam membisu, entah apa yang sedang dipikirkan

Diujung jalan disekitar parkir mobil mobil harga ratusan juta
Terpantul guratan wajah kemiskinan
Wajah wajah yang kelak dialam kekal siap menuntut keadilan penguasa
Dibalik spion mobil mewah, kau dekap wajah kecil itu dengan mesra..

“Cup…cupp, diam dik,
Kakak akan berusaha, bawakan makanan sisa dari rumah makan seadanya
Agar obat penurun panas mu tertelan dan reda”
Bocah kecil itu mengangguk memaksa fikirannya agar mau berpasrah

Sesekali merintih, menahan lukanya yang parah
Oo…rupanya tabrak lari itu yang membuat sikecil menderita
Seorang pecundang yang bersembunyi dibalik mobil mewahnya
Menyetir dengan mabok menggila
Tak menghargai sebuah nyawa

Tanpa ada rasa welas tapi lari dengan meludah..
Mencaci, dengan sumpah serapahnya
hilang rasa hati manusia
Buihh…anjing lapar! Mengganggu saja…

Bocah kecil itu merunduk dengan pasrah, dengan setumpuk koran yang berserakkan lepas dari genggamannya, beringsut dari keramaian dengan segera. Seraya menikmati rasa sakit yang tak terkira

Seorang kakak kembali menawarkan pelukannya
Sabar dik, Alloh akan janjikan kita syurga
Sini dik, kakak bantu bersihkan luka..
Darah segar meleleh dijalanan aspal diselingi rintihan yang tertahan, tetesan darah yang dianggap murah bagi mereka yang mengabdi pada kasta dunia.
murah, Karena cucuran darah dari simiskin yang tak berpunya. Bukan ceceran darah kolongmerat ataupun pengusaha
Yang setetes daranya akan berharga juta rupiah. Padahal nyawa takkan membela siapa dia.

Dik, lukamu menganga, seperti halnya luka jiwa yang parah. Jalanan adalah tempat kau dan alu ditempa.
Seorang kakak yang berusaha menenangkan kerisauan adiknya, memeluknya dengan erat, seperti ketika ibunya memeluk dalam buaian.Sedikit usapan sayang adalah anugrah
Sayangnya…jerit perihmu masih belum mampu membelalakkan mata dunia
Dunia yang penuh bongkahan kepalsuan
Diliputi debu jalan kau tetap berhasrat merangkai harapan
Melalui kepingan recehan tapi masih terpikirkan oleh mu

“Ya Alloh ini shodaqahku hari ini untuk ibu dan ayahku yang telah tiada. Kapankah Kau pertemukan aku?”
Dalam rangkulan kakak beradik mengharap pengganti dekapan seorang ibu.

LellyHapsari/RumahMedia

One comment