Pengalaman shaum di Negeri Gajah Putih

Shaum di negara yang muslimnya minoritas, baru pertama kali kami alami. Ketika kami sekeluarga bermukim di Pathumthani, salah satu propinsi di Thailand. Letaknya sekitar 40 km dari Bangkok, ibukota Thailand.

Lingkungan sekitar tempat tinggal saya berupa kampus universitas swasta yang berbahasa internasional alias berbahasa Inggris. Mahasiswa, pengajar dan stafnya berasal dari berbagai negara, mayoritas dari Thailand tentunya. Ada mesjid di dalam kampus yang berjarak sekitar 500 m dari apartemen tempat kami tinggal. Mesjid ini dilengkapi dengan pendingin ruangan. Jadi kalau Thailand sedang masuk musim panas, bisa ngadem di sini hehe. Mesjidnya sederhana. Berupa ruangan berukuran sekitar 50m persegi. Tidak ada speaker ataupun toa di sana. Jadi adzan itu hanya dikumandangkan di teras masjid dengan suara muadzin saja. Tanpa pengeras suara. Lalu bagaimana kita tahu sudah masuk waktu sholat? Kita sesuaikan jam tangan dan jam dinding dengan waktu sholat di mesjid kampus. Diusahakan datang lima menit sebelum waktu adzan tiba, jadi bisa sholat berjamaah.

Muslim di sini berasal dari negara Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Sudan, Nigeria dan Afganishtan. Sister dari Afganishtan dan Pakistan secara umum memiliki kemiripan secara fisik. Tinggi semampai dengan kulit berwarna cerah, berhidung mancung dan pakai kerudung jenis pashmina yang dililit ke kepalanya. Ramah-ramah orangnya. Sering bercerita tentang keseharian mereka di negaranya. Salah satu cerita yang sangat menyentuh adalah sister dari Afganishtan yang bersyukur bisa beribadah dengan tenang selama di Thailand. Kenapa? Karena di kampung halamannya, masih ada peperangan. Jadi kalau sedang sholat, tiba-tiba terdengar dentuman suara bom yang diluncurkan ataupun mengenai sasaran, sudah tidak aneh lagi. Bahkan ada yang sedang sholat ditembak atau kena bom, sudah menjadi pemandangan sehari-hari di sana. Cerita sister sambil berkaca-kaca dia berkata, “Maka bersyukurlah kamu kalau masih bisa khusyuk sholat dan melaksanakan ibadah lainnya dengan tenang tanpa khawatir kena bom.” Saya beneran ketampar soal ini.

Shaum di Thailand lebih lama sejam dibandingkan dengan di Indonesia. Waktu sahurnya sama tapi waktu maghribnya lebih lama sejam dari waktu Indonesia bagian barat. Biasanya subuh sekitar pukul 04.30 an dan maghrib sekitar pukul 19 malam. Isya pukul 20 an. Kalau dilanjut dengan tarawih, bisa pulang sekitar pukul 22 an. Karena tiap malam, imamnya baca surat sebanyak satu juz. Sehingga selama bulan Ramadhan bisa tamat 30 juz. Setiap hari ada buka puasa bareng di mesjid. Mesjid selalu menyediakan ifthar (makanan buat berbuka puasa). Makanannya beragam karena tergantung siapa yang menyumbang. Kalau yang menyumbang makanan berbuka dari Bangladesh, kebanyakan makanan tradisional merekalah yang disediakan. Ada salah satu kue yang saya pernah makan. Bentuknya mirip kue apem. Berwarna putih. Pas dimakan rasanya manis sekali.

Tantangan terbesar shaum di negeri di mana muslim adalah kaum minoritas, yaitu banyak sekali yang makan dan minum di sekitar kita. Meskipun kalau yang sangat perhatian kepada muslim dan mereka tahu kalau kita sedang menjalankan shaum, mereka sengaja tidak makan dan minum di depan kita. Toko, warung maupun restoran tetap buka seperti biasa. Tidak tutup di siang hari atau memasang gorden agar tidak kelihatan bila ada yang makan di siang hari. Selain itu, cuaca di sana yang panas bikin cepat haus. Di sana pagi-pagi sekitar pukul 8 pagi saja, suhu udara sudah mencapai 30 derajat celcius. Apalagi di siang hari bisa sampai 37 derajat celcius. Panas banget. Ini belum masuk pas musim panas di Thailand.

Alhamdulillah anak-anak bisa shaum sebulan penuh waktu tinggal di sana. Hanya saja jam yang genting seperti sore hari, sekitar pukul 17, sering mengeluh lapar dan haus, biasanya saya ajak untuk menyiapkan makanan buat berbuka atau saya ajak main di kolam ikan, kasih makan ikan di situ sekalian juga memberi makan burung liar.

Pengalaman ini bermanfaat sekali buat kami sekeluarga. Bisa survive dengan kondisi seperti itupun merupakan suatu prestasi buat kami. Sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Semoga menjadi bekal yang bermanfaat buat kita semua. Aamiin.