PENGALAMAN MENYAPIH DENGAN CINTA

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Salam semangat untuk para ibu yang sedang mengASIhi. Tentunya bahagia sekali bisa memberikan ananda ASI langsung dari bunda sendiri. Semoga Bunda dan buah hati sehat selalu. Sebagai seorang Ibu, selain proses persalinan hal yang tak kalah mendebarkan adalah proses menyapih. Iya kan, Bun? Bagaimanapun proses menyapih pasti dibutuhkan kesabaran yang ekstra.

Setelah kurang lebih 2 tahun mengASIhi tibalah saatnya untuk menyapih. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti menyapih adalah menghentikan anak menyusu.

Akan ada banyak rasa saat melepaskan ananda untuk berhenti menyusu. Perasaan tidak tega, belum siap, rasa kehilangan karena biasanya kita dan anak berdekatan terus selama menyusui, namun setelah masanya anak disapih mau tidak mau kita harus rela melepasnya.

Begitupun dengan anak pasti akan merasa sedih dan kehilangan. Bagaimana tidak, rutinitas yang dilakukannya sedari awal lahir harus terhenti untuk selamanya. Ini terkadang jadi dilema. Apalagi anak jadi rewel, merengek sampai nangis-nangis meminta ASI. Rasanya ingin memberikannya lagi. Bahkan merasa berdosa karena telah membuat anak menangis.

Saat menyusui dengan penuh cinta, maka saya ingin menyapih pun dengan penuh cinta. Supaya kedekatan saya dan anak tidaklah berubah.

Ada beberapa tips dari pegalaman saat menyapih di usia anak saya yang ke 2 tahun. Alhamdulillaah dari sekian metode penyapihan, Metode menyapih dengan cinta atau WWL (Weaning with Love) inilah yang saya pilih.
Kenapa? Karena dengan metode ini, tidak perlu melakukan penyapihan dengan cara yang tiba-tiba dan sekaligus sehingga menimbulkan trauma bagi saya maupun bagi anak. Menyapih dengan cinta ini adalah proses menyapih yang dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap tanpa memaksa, menjauhi ataupun membohongi anak. Oh ya, metode ini pun tidak membuat payudara Ibu sakit dan badan meriang seperti yang sering dikeluhkan banyak Ibu saat menyapih.

Inilah beberapa langkah yang saya lakukan. Menyapih dengan cinta. Anak tetap ceria dan saya pun bahagia?

  1. Niat
    Kuatkan niat untuk menyapih anak sesuai target yang dikehendaki. Tanpa niat yang kuat bisa jadi proses sapih tidak berjalan maksimal.
  2. Siapkan mental
    Siapkan mental dari jauh-jauh hari supaya tidak mudah menyerah dan mudah baper. Menyapih juga butuh dukungan dan kerjasama dengan pihak lain, beritahu lingkungan terdekat terutama suami bahwa kita akan segera menyapih dengan metode WWL ini.
  3. Sounding
    Beri pengertian lewat bahasa yang dimengerti anak secara konsisten dan berlanjut sampai proses sapih berhasil. Misal “Adek, nanti di usia 2 tahun adek sudah tidak perlu mimi lagi. Miminya diganti minum atau makan ya.”
  4. Siapkan makanan sehat sebagai pengganti.
    Sediakan makanan dan cemilan sehat untuk anak sebagai pengganti ASI. Hindari penggunaan dot atau mpeng. Sebagai minuman pengganti saya lebih memilih air mineral ketimbang susu kotak atau minuman rasa.
  5. Tidak membohongi atau menakut-nakuti anak.
    Tidak berbohong kepada anak dengan mengatakan jangan mimi lagi karena payudara ibu berdarah, pahit atau sakit. Ini tidak dianjurkan. Hal ini juga dilakukan untuk menanamkan sikap jujur kepada anak dengan memberi contoh terlebih dahulu kita jujur terhadapnya. Beritahu alasan yang sebenarnya kenapa anak tidak perlu menyusu lagi.
  6. Memberikan kasih sayang lebih kepada anak dalam bentuk lain.
    Saya sering PEC (PELUK ELUS CIUM) anak. Supaya anak tetap merasa disayangi meski tidak menyusu lagi. Terlebih saat anak berhasil melewati satu persatu tahapan disapih sebagai bentuk apresiasi untuknya. Atau dalam bentuk lain yang membuat anak semakin semangat lepas ASI. Tidak menjauhi anak. Tetap dekat dengannya supaya tidak merasa diabaikan.
  7. Membuat kesepakatan dengan anak.
    Hal ini perlu dilakukan supaya anak tidak kebingungan. Mulai kapan tidak menyusu dan kapan masih diperbolehkan. Saya mulai melakukan prosesnya setelah saya dan anak sepakat. Misal, “Adek, mulai besok tidak mimi siang ya. Boleh kan? Tidak apa-apa?” Nah saat anak menyetujui maka tahapan menyapih bisa mulai dilakukan.
  8. Tidak menawarkan ASI kepada anak dan tidak juga menolaknya.
    Sebisa mungkin tidak menawarkan ASI kepada anak serta hindari kalimat negatif misal “jangan mimi/jangan nenen.” Saat anak merengek ingin menyusu usahakan cari alternatif lain untuk mengalihkan fokusnya. Misal dengan menawarkan makanan atau minuman sehat atau dengan mengajak anak bermain dengan permainan yang dia sukai.
  9. Menentukan target dan menyapih secara perlahan
    Misal saat saya akan menyapih, saya targetkan diusia 2 tahun pas anak sudah berhenti total.
    Perlahan-lahan satu pekan pertama anak tidak menyusu disiang hari namun masih boleh saat akan tidur dan bangun tidur sebelum pagi. Ini seperti berpuasa orang dewasa. Boleh menyusu saat malam saja.
    Setelah satu pekan berhasil maka pekan ke dua hanya boleh menyusu di malam hari dan subuh.
    Setelah berhasil lanjut pekan ketiga tidak menyusu pada malam hari dan subuh. Alhamdulillah akhir pekan ke tiga anak sudah dengan kesadaran sendiri tidak mau menyusu lagi. Jadi sepekan sebelum hari-H yang sudah saya targetkan anak sudah berhenti total tanpa tantrum dan drama.
  10. Berdo’a
    Hal yang jangan sampai terlewat dan terlupakan adalah berdo’a. Mohon diberi kekuatan dan kelancaran selama proses menyapih ini.

Bagi ummat muslim membaca Q.S Albaqarah: 233 saya sarankan sebagai pengingat saat kita merasa berdosa, menyerah dan tidak tega. Lebih baik lagi dibaca setiap hari.

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Menyapih seperti ini memanglah tidak instan. Penuh emosional dan butuh kesabaran. Perlu menyiapkan hati, fisik dan mental. Tapi disanalah kenikmatannya.

Semoga bermanfaat. Salam semangat.

Nubatnulisbareng/Titin Siti Patimah