Pengalaman Bersekolah di Perantauan

Asian Institute of Technology International School (AITIS) merupakan sekolah anak-anak ketika tinggal di Pathumthani, Thailand. Sekolah ini dekat dengan apartemen kami. Jaraknya sekitar 50 m. Hanya tiga menit dari rumah memakai sepeda dan sekitar tujuh menit apabila jalan kaki. Awalnya saya antar anak-anak berjalan kaki ke sekolah. Setelah punya sepeda, kita berangkat ke sekolah menggunakan sepeda. Di sekolah disediakan tempat parkir untuk sepeda. Jadi tidak perlu khawatir hilang. Hanya perlu khawatir tertukar hehe. Karena pernah suatu waktu, sepeda anak saya dibawa pulang oleh anak lain, karena mirip dengan sepeda kepunyaannya. Alhasil anak saya pulang dengan berurai air mata. Lalu kita cek dan lapor ke pihak sekolah. Sekitar jam lima sore, sepeda anak saya sudah kembali ke tempatnya semula di tempat parkir sepeda. Ternyata, orangtua anak tersebut sudah menyadari kekeliruan anaknya lalu mengembalikan sepeda tersebut ke tempat semula.

Staf pengajar di sekolah ini beragam. Berasal dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang ilmu dan budaya serta bahasa. Kepala sekolahnya berkebangsaan Amerika. Tapi beliau beristrikan orang Indonesia dan pernah menjabat sebagai kepala sekolah di salah satu sekolah swasta di Bogor. Mayoritas gurunya fasih berbahasa inggris dengan berbagai logat asal negaranya hehe. Seperti orang India, grammar yang tepat disertai gelengan khas kepalanya dan intonasi seperti film-film India yang saya tonton. Orang Bangladesh dapat mudah dikenali dengan gaya berpakaiannya. Apabila muslimah, pastilah ia memakai semacam scarf atau pasmina. Orang Srilanka agak mirip dengan orang India. Wangi bumbu khas kari bisa terhirup baunya apabila kita berpapasan. Orang Pakistan dan Afganishtan mirip secara fisik. Tinggi, berkulit cerah, kadang iris mata berwarna selain coklat dan hitam, ada yg berwarna hijau dan biru. Seakan ketemu dengan “bule” muslim hehe. Orang Thailand umumnya ramah-ramah, sangat welcome. Orang Nepal perawakannya mirip dengan orang India. Sudan dan Nigeria khas dengan warna kulitnya dan rambut keritingnya. Orang Sudan yang pernah saya temui semuanya muslim. Orang Filipina ada yang mirip dengan kita, bangsa Melayu begitu pula dengan orang Thailand. Mayoritas guru di sekolah ini berasal dari Filipina, sedangkan asisten guru, mayoritas berkebangsaan Thailand.

Mr. Joe adalah wali kelas anak saya di kelas lima. Melalui beliaulah, kepercayaan diri anak saya bisa meningkat. Awalnya ketika baru pindah, meskipun bisa berbahasa inggris, anak saya masih minder. Entah bagaimana caranya, Mr. Joe ini bisa membuat anak saya percaya diri. Rasa percaya diri inilah yang membuat anak saya sampai bisa meraih predikat terbaik akademik di kelasnya. Mengalahkan ke-18 teman-temannya yang berasal dari berbagai kebangsaan. Diamond award, itulah yang diraih oleh anak saya.

Selain Mr. Joe, saya sangat terkesan dengan wali kelas anak saya di kelas 6. Dia seorang perempuan muslim dari Bangladesh dengan latar belakang pendidikan PhD. Saya kagum dengan cara mengajarnya. Dia tahu sifat dan karakter peserta didiknya. Dan dia bisa membuat siswanya mengeluarkan kemampuan optimal di bidangnya. Berbincang dengannya seakan-akan dia itu ibunya hehe. Saya banyak belajar kepada beliau, how to handle my son. Bahkan berkat didikan beliau, anak saya mendapatkan predikat “Graduation with Honor” alias lulusan terbaik. Saat diumumkan pas upacara kenaikan kelas, saya dan ayahnya terharu hingga menitikkan air mata. Thank you Mrs. Farzana.

Itulah pengalaman saya menyekolahkan anak di sebuah sekolah internasional di perantauan. Tadinya ingin sekali sekolah di sekolah muslim terdekat dari tempat tinggal kami. Tetapi kami terkendala dengan bahasa. Karena bahasa pengantar di pesantren di sana adalah bahasa Thailand. Tetapi tetap kami syukuri. Pelajaran tentang agama Islam didapatkan dari komunitas mahasiswa muslim di tempat kami tinggal. Jadi anak-anak masih bisa belajar membaca Al-Qur’an dan belajar sholat. Diadakan pelajaran mengaji dan sholat seminggu dua kali di mesjid di dekat apartemen. Anak-anak belajar bersama dengan anak muslim lainnya. Yang kadang berbeda untuk pelafalan hurufnya. Di sinilah letak seru nya belajar bersama. Sekalian belajar agama juga belajar bersosialisasi dan berteman dengan saudara muslim lainnya. Pelajaran yang sangat berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Wawang Yulibrata