Pendidikan Karakter Dari Alam Pedesaan

Masih lekat dalam ingatan, ketika berjalan melewati orang orang yang sedang duduk, dan mereka berusia jauh di atas kita, kita yang lebih muda harus membungkukkan badan atau mengucapkan kalimat permohonan izin untuk lewat.

Saat duduk untuk makan bersama, tidak boleh sambil bicara, tidak boleh mengeluarkan suara berkecap dari mulut, mengambil makanan dengan tangan kanan, tidak boleh membuka mulut saat bertahak karena kenyang, makan harus habis. Masih teringat hingga saat ini, ketika nenek mengatakan ” kalau makan nasinya tidak dihabiskan, nanti ayam peliharaan kita bisa mati”. Sampai ada peringatan kalau makan jeruk atau buah sampai tertelan bijinya, maka nanti pohon buahnya tumbuh di kepala. Masih banyak lagi aturan saat berada di meja makan. Bahkan kalau kita pikirkan lagi di saat sekarang membuat kita tertawa.

Ada lagi mitos dari desa yang menjelaskan bila anak gadis tidak boleh merendam pakaian yang akan dicuci lebih dari 3 jam, nanti rejekinya seret. Tidak boleh menyapu lantai saat malam hari, tidak boleh menjahit saat malam hari.

Mitos mitos yang ada atau disebut dengan “tabu” oleh sebagian masyarakat di daerah pedesaan, kalau kita renungkan kembali, sebetulnya bisa kita ambil sebagai pelajaran. Hanya saja di pedesaan disebut “pamali”. Dari pamali itulah kita bisa mendapatkan pendidikan karakter yang tersirat secara sederhana.

Sebagai penjelasan pertama, karakter yg terkandung dalam sikap permisif dengan membungkukkan badan di depan orang yg lebih tua, mengandung pengertian bersikap sopan santun dan memberikan penghormatan atau penghargaan yang tinggi terhadap orang tua atau dituakan. Sikap sopan santun dimanapun, terhadap siapapun memang harus selalu ada pada setiap orang, siapapun dia.

Ketika kita makan sesuatu, kita harus teliti dan hati-hati agar apa yang kita makan memberikan manfaat dan kebaikan untuk tubuh kita. Sebab jika kita makan dengan sikap asal makan, maka bukan tidak mungkin terjadi hal hal yang tidak baik terhadap tubuh kita.

Dalam aturan makan setiap orang seharusnya memiliki karakter hemat, cermat dan perduli pada orang lain. Pertimbangannya adalah adanya rasa bersyukur. Kemudian pemikiran bahwa petani yang menanam padi untuk makan kita, telah bekerja sangat keras menghasilkan butir butir nasi yang kita makan.

Ada lagi hal yang bisa saja kita lupa, bahwa di luar sana, masih banyak orang yang untuk bisa makan nasi 2 kali sehari saja sangatlah sulit.

Mitos mitos yg berhungan dengan pamali saat mencuci pakaian dan saat hari mulai senja, bila kita kaji kembali akan berujung pada kedisiplinan waktu.

Pakaian kotor yang direndam terlalu lama akan menjadi berbau tidak enak, dan tudak nyaman di badan karena aroma yang tidak menyenangkan akan tercium saat kering. Kondisi tersebut bisa saja mencerminkan orang yang tidak menghargai waktu dan suka menunda pekerjaan. Sikap tersebut sangat tidak baik untuk siapapun.

Contoh contoh nilai kehidupan yang berharga, sebenarnya banyak bisa kita dapatkan dari hal-hal yang sangat sederhana dari masyarakat yang bersahaja di sekitar kita.Dengan catatan kita bisa memiliki karakter positif dengan niat kuat untuk bisa dan terbiasa.