Penderitaan Bukan Akhir Segalanya

Sumber foto: Google edit by Meitu

Dalam hidup pasti ada masa susah dan senang. Tak pernah lepas dengan ujian berupa musibah, sakit tak kunjung sembuh dan masalah-masalah yang tak bisa dihindari. Kita harus semakin peka bahwa ada hikmah di balik setiap penderitaan.

Sejak kecil aku sakit-sakitan karena ada luka penolakan dalam kandungan tanpa sengaja (dalam pikiran mendiang mami). Banyak orang belum tahu bahwa janin dalam kandungan, walaupun baru beberapa hari bisa merasakan baik yang negatif maupun positif. Makanya perlu sangat berhati-hati dengan apa yang dipikirkan.

Singkat cerita aku mulai menyadari ketidakberesanku dengan sering sakit itu, mulailah aku memperdalam pengetahuan rohani. Ikut retret penyembuhan luka batin di pertapaan Karmel di Malang. Secara manusia sudah mulai merasa lelah sakit-sakitan.

Setelah dijelaskan pentingnya penyembuhan luka batin, dan efek seringnya marah karena tidak terima dengan kenyataan pahit, aku mulai meditasi pada tahun 2000. Selain berdoa dan ritual keagamaan, meditasi ini mengajarkanku menerima hal-hal yang tidak enak dan tidak sesuai keinginan.

Aku mempelajari banyak hal baru selain spiritual, juga ilmu jiwa dari kenalanku psikolog dan psikiater. Di internet pun sudah banyak informasi penyembuhan luka batin. Prosesinya sulit sekali, banyak orang sudah malas dalam menjalani prosesnya.

Aku bersyukur walaupun sulit dan seolah-olah masalah hidup tak kunjung selesai. Terutama masalah kesehatan yang membuatku hampir menyerah, aku terus berharap kepada Tuhan. Puji Tuhan tak ada kata menyerah dalam kamus hidupku dan aku terus berjuang sampai sembuh dari luka batin.

Dengan tekun meditasi, kesadaranku semakin meningkat dan semakin ikhlas dalam menerima setiap cobaan yang menghempaskanku. Dengan keikhlasan yang bagiku adalah karunia Tuhan, mulailah aku dapat karunia lagi untuk dapat bersyukur dalam kondisi duka sekalipun.

Bahkan aku pernah mencari kemana emosiku yang selama ini sering muncul. Aku sudah mendapati diriku lebih sabar daripada dulu. Dalam keadaan apapun, sampai hal terberat dalam hidupku, mami ditabrak sampai meninggal pada tahun 2014, aku masih tetap tenang dan tidak menyerang yang menabrak.

Sampai sekarang, kalau aku mau merenungkan penderitaan-penderitaan dalam hidupku bukan akhir segalanya. Justru awal dimana aku bisa menjalankan ajaran Tuhan untuk memaafkan orang yang menyakiti, tabah dan ikhlas menerima segala cobaan. Dengan keyakinan ada berkat besar di balik penderitaan yang boleh terjadi dalam hidupku.

Kepekaanku semakin meningkat, sehingga setiap kali menghadapi masalah, aku tetap tenang dan percaya Tuhan sudah memberikan jalan keluar terbaik. Penderitaan sebelum aku memahami tentang penyembuhan luka batin, kecelakaan yang pernah aku alami sampai koma 14 hari pada tahun 1992, membuatku mengerti bahwa korban kecerobohan orang lain selalu dilindungi.

Kalau secara manusia sulit untuk dipercaya aku masih bisa diselamatkan. Luka berat yaitu patang tulang belakang kepala, membayangkan saja aku tidak sanggup. Sampai sekarang, aku sering flash back sampai tahun terdahulu mengalami penderitaan-penderitaan parah.

Bukan untuk menyesali dan menyalahkan keadaan, justru semakin merasakan betapa besar kasih Tuhan kepadaku. Buat para pembaca yang sedang mengalami penderitaan, percayalah bahwa itu bukan akhir segalanya. Ada rencana Tuhan selalu indah pada waktuNya, di balik penderitaan.

The Power of Thinkingđź’–

The Power of Forgivenessđź’–

Wenny Kartika Sari