Penantian

Mia merasa ada yang berbeda hari ini. Tiba-tiba saja dia merasa exciting, sangat bahagia, merasa sangat bersemangat. “Why I feel happy like this, what happend, something wrong with me?” gumamnya dalam hati. “Dapat bonuskah?, Tidak”, “Hari ulang tahun?, bukan”, “Dapat insentif? Dapat pujian?” bertubi tubi pertanyaan memaksanya untuk mengingat dan jawabannya tetap “Tidak”. Mia memacu otaknya untuk terus mencari penyebabnya. Slide demi slide tampak di memorinya. Gambar kejadian itu bermunculan mulai dari pagi itu dia bangun, mandi, sarapan, berangkat kerja sampe sekarang, tidak ada yang aneh, tidak ada yang berubah, semuanya berjalan seperti biasa.

Tak habis  rasa penasarannya, Mia bergegas pulang. Membongkar lemarinya, mencari buku diarynya, berharap dia menemukan penyebab rasa itu mungkin ada dalam diary yang dia tuliskan dan lewatkan. “Bukan, bukan ini!” lembar demi lembar dilumat habis tanpa kedip. Hasilnya, nihil.

Kriiiiiing

Hp berbunyi. Segera Mia mengangkatnya ternyata pesan singkat dari komunitasnya memastikan hari Sabtu mereka akan pergi senam bersama. “Ups!!! Mungkin yang kucari ada disini” katanya dalam hati. Segera jari jemarinya yang lincah memijit tombol-tombol membuka pesan-pesan yang masih tersimpan dan “Aku akan datang ke kotamu, Sabtu ini” Jantung Mia berdegup kencang. Kembali membaca pesan itu berulang. “Pesan itu, ya pesan itu yang membuat ku bahagia” Mia tak bisa menyembunyikan lagi senyumannya. “Dia akan datang, kesini? Apa yang harus ku lakukan?.”

Jum’at berlalu terasa begitu lambat. “Hari ini dia akan datang? Benarkah? Aku tidak berani menanyakannya. Aku takut. Ah gimana ya” Mia salah tingkah. Pagi-pagi itu lain daripada biasanya. Mia sudah mandi, berdandan rapi, membereskan pekerjaan rumah selesai sebelum waktunya. Semua dia kerjakan secepat yang dia bisa, sampai ibunya heran melihat ketidak biasaan tingkah anaknya ini. “Mia, pagi-pagi gini udah rapih, mau kemana sekarang kan hari Sabtu, libur ngantor” “Oh ini mah, ada janji dengan teman mau senam bareng” “Pagi-pagi? Bukannya jadwalnya biasanya sehabis dzuhur?” “Iya sich, tapi kami ada ngerjain yang lain-lain dulu, boleh mah” “Ya udah, berangkat sana, hati-hati” “Ya, mah. makasih”.

Detik demi detik berlalu, berkali-kali Mia lihat HP nya berharap dia memberi kabar jadi atu tidak nya dia ke sini. Mia masih menunggu, sesuatu yang tak mesti ditunggu. “Biarlah sampai habis hari ini aku akan menunggunya” “Gila apa aku nie ya, dia kan cuma teman, dia juga tidak berjanji akan menemuiku, dia hanya bilang akan datang ke kotaku, tapi kenapa aku menunggunya?” batin nya bergolak. “Ah biarlah jika dia datang aku bahagia, tak datang pun rasa ku sama.”

Hari sabtu berlalu. Dia tak datang. Dalam hati Mia masih terselip rasa dan harap dia akan datang. Senin. Kembali bekerja. Mia ingin sekali menghubunginya sekedar untuk bertanya memastikan apakah dia jadi ke kota ini atau tidak tapi urung dia lakukan. “Biarlah, aku akan menghubunginya jika dia lebih dulu menyapa.” “Penantian ini, membuatku tak berdaya” sayup-sayup suara merdu Krisdayanti menyanyikan lagu penantian menemani aktivitasnya pagi itu.

2 comments