PEMBURU SENJA

Seandainya Tuhan tak menciptakan fajar, maka senja tak kan tercipta.

Perjalanan sepanjang hari ini menegur diriku dengan lembut, bahwa kuasa Tuhan tak’kan mungkin bisa di sandingkan dengan logika.

Pohon yang melambai mesra dan tersenyum padaku, mengatakan bahwa bumi dan penghuni nya sedang tak baik-baik saja, sakit namun sehat, sehat namun sakit.

Ah… Entahlah.

Padi yang tertanam, siap di peluk mesra pemiliknya. Air gemericik di sampingnya, memanjakan, dan berkata “Jangan takut ada aku disini”.

Sepanjang jalan sempat terhenti nafas, namun tak henti berdecak kagum “Inikah ciptaan-Mu?”
Sungguh indah, berwarna, bermacam rupa tak ada dua nya. Tak ada yang mampu menandingi, seharusnya kita tahu itu.

Aku iri dengan senja, yang begitu indah, memamerkan pesonanya, aku iri dengan senja yang begitu romantisnya mengatakan pada surya, berbisik manja perlahan “sampai bertemu esok di lain hari”.

Semburat warna yang tak bisa hilang dari ingatan, memanjakan netra dan kalbu, jiwa yang melihat seakan di berikan kesejukan, rasa itu akan selalu terkenang.

Aku pemburu senja.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu