“Pelangi”

Pagi ini ditemani secangkir kopi kesukaannya setelah semalam, ditengah malam baru selesai tugas terakhirnya, dilihatnya jam dinding sudah jam 00.35 wib. Alhamdulillah lirihnya. Terima kasih ya Allah selesai juga. Selanjutnya ditekannya alarm pada hpnya, bissmillah tertera jam 3.15 wib. Aku harus bangun. Bisiknya dalam hati.

Setelah 3 tahun pagi ini kembali Ikhlas mengaktifkan facebooknya, “selamat pagi Mba Ik” sapa Ina ketika keluar dari kamarnya, “hai sudah bangun na… ” sahut Ikhlas, yang akrab di panggil Iik. Kembali tangan dan mata tertuju pada Hpnya.

“Mba Iik dapat salam dari mas Arman” ucap Ina dari meja makan, ” waalaykumussalam” sahut Iik kemudian. ” terima kasih ya Na..” senyum Iik mengiringi ucapannya. “Kapan sih mba bisa berdamai dengan nama mba sendiri “Ikhlas” Ina melanjutkan perkataanya.

Iik tercekat dengan ucapan adiknya, “kenapa memangnya Na…” sahutku, tetapi aku mencoba menerka kemana maksud dari ucapan ina. “Maaf mba udah 3 tahun loh…” ” aku baca diary mba … Maaf ya” Ina berkata sambil berjalan mendekatiku.

Aku tersenyum, kini aku mengerti kemana arah pembicaraan Ina saat ini, “mba dah ikhlas kok” ” memang tidak mudah perlu waktu satu tahun untuk secara perlahan berjuang mengurangi juga secara perlahan sesekali melihat Pelangi apakah dia aktif di facebook walau kami sudah berpisah secara dewasa.

Terakhir sebelum benar – benar menguatkan diri untuk memblokir tidak sungguh-sungguh no whatapp Pelangi di hp. Kadang bila rasa kangen datang blokiran hp ku buka cuma sekedar melihat namanya terpampang di whatapp. Ketika kangen sekali ingin ngobrol, curhat, berusaha untuk menghadirkan wajah anak-anak Pelangi juga wajah istrinya. Karena aku yakin belum bisa melepaskan Pelangi saat ini

Merekalah yang menguatkan Iik untuk berpisah dengan lelaki yang telah menikah, beristri dan memiliki 3 anak. Ditengah rasa bersalahnya karena telah mencintai Pelangi lelaki sederhana, yang sudah siap untuk menikahinya. Hanya satu pesan Pelangi pada Iik ” tapi kamu harus sabar ya….”

Mengapa cinta ini subur pada Pelangi? Selalu saja ada pertanyaan apakah ini cinta yang memang Allah berikan padaku, kenapa lelaki yang beristri?, aku sangat tau kalau aku salah telah masuk kedalam rumah tangga Pelangi, selalu saja Pelangi berkata ” cintaku ada dua, satu untuk istriku dan satu lagi untuk kamu pacarku”

Ketika Pelangi bersikeras ingin menikahiku maka saat itulah tahajudku gencar pada Allah, jangan sampai aku menjadi perusak rumah tangga orang, menyakiti seorang perempuan setia yang senantiasa menantikan kehadiran suaminya sepulang kerja dan suaminya banyak menghabiskan waktunya denganku.

Wajah anak – anak Pelangi yang masih butuh kasih sayang kedua orang tuanya, mana tega aku melakukan itu mengambil sebagian dari kasih sayang ayah mereka. Tapi rasa cintaku juga semakin subur kepada Pelangi.

Setelah 6 bulan dari gencarnya tahajudku, doaku adalah Ikhlaskan aku melepas orang yang kucintai, mulai kuhitung berapa tabungan ku kira-kira bila aku tidak memiliki penghasilan cukup tidak untuk pergi menghindar dari Pelangi. Ya menghindari semuanya bahkan harus harus meninggalkan kedua orang tuaku dan adikku. Ini jawaban dari tahajudku

Karena sudah beberapa kali kami berpisah secara baik-baik tapi itu tidak akan bertahan kami akan kembali bersama lagi, Pelangi selalu bilang bahwa tidak ada yang salah dengan rasa cinta ini. Ketika kata itu terdengar maka semakin merasa bersalah aku dengan istri dan anak-anak Pelangi.

Aku ikhlas untuk tenggelam sejenak, menghilang, pamitku pada ayah dan ibuku karena ada tugas penelitian di Sumbawa padahal aku resign dari perusahaan, ya aku memilih ke Sumbawa untuk membawa luka hati yang kuciptakan karena aku tidak ingin lagi melakukan kesalahan

Hari-hariku di Sumbawa kulalui dengan segala keikhlasan, menangis semauku, berdiam tidak melakukan aktifitas apapun selama berhari-hari, setelah bisa berdamai dengan hati, aku akan keluar rumah dan bersilaturahiim dengan masyarakat sekitar.

Kulalui hari seperti itu selama 4 bulan, dengan segala macam permohonan doa dalam tahajudku. Akhirnya di bulan ke 5, aku mulai berkegiatan kecil-kecilan, mulai dari ikut membantu belajar membaca anak-anak tetangga sekitar, sampai mencoba memberikan sedikit ilmu yang kumiliki pada kaum ibu disana.

Aku diterima dengan baik disana. Mengapa kukatakan dengan baik, karena mereka tidak pernah menanyakanku kenapa ada disini, kenapa kok sendiri. Dan ini semua yang membuatku kini ikhlas untuk mengingat pelangi dengan sosok yang lain yang ketika aku mengingatnya, seperti aku mengingat temanku.

Aku ikhlas melepas rasa hatiku, dan kini aku sudah kembali pada keluargaku, dua tahun waktu yang sangat cukup untuk ku kemas segala rasa hati ini, ini tahun ke 3, aku sudah tidak lagi mengingat Pelangi dengan cara yang dulu. Alhamdulillah. Kini saatnya aku kembali untuk melanjutkan hidupku dengan sebaik-baiknya. “Mbak…” Sapa Ina dengan lembut, ” kok jadi malah melamun” lanjutnya mengagetkanku.

.

Nubarnulisbareng/Nurfahmi

Sumber Gambar : cuplik dari Google