PELAJARAN TABU

Tiap orang tua menyayangi anaknya dengan cara berbeda-beda, tergantung pada tingkat edukasi, pengalaman dan tujuan yang diinginkan terhadap anaknya.

Namun secara garis besar ada dua tipe cara menyayangi orang tua kepada anaknya, yakni yang melindungi anaknya dari dunia dan yang mempersiapkan anaknya menghadapi dunia.

Tipe pertama adalah tipe yang terkesan begitu melindungi, menjaga, melayani dan memberikan kesempurnaan. Anaknya hampir tak pernah terluka, susah atau menderita.

Umumnya orang tua memilih cara ini karena terdorong rasa sayang yang begitu besar kepada buah hatinya.

Dalam jangka pendek, keadaan nampak ideal dan baik-baik saja. Anak dan orang tua sama-sama bahagia. Namun akan menjadi problem jika suatu hari nanti orang tua tak lagi bisa mendampingi anaknya dan anak tersebut tidak mampu menjaga dirinya sendiri karena tidak pernah diajarkan caranya.

Tipe kedua adalah tipe yang terkesan tidak selalu melindungi, melayani dan memberikan kesempurnaan dunia.

Orang tua tipe kedua menyadari, tidak bisa selalu ada untuk menjaga anaknya. Ia juga sadar, dunia tidak akan peduli dengan perasaan dan keinginan anaknya. Maka agar anaknya bisa bertahan dan hidup dengan baik, sedini mungkin harus dipersiapkan menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh.

Orang tua tipe ini berusaha melatih anaknya untuk mandiri sedini mungkin, setidaknya bisa mengurus diri dan bertahan dalam keadaan darurat atau terpaksa.

Saya memilih menjadi orang tua tipe kedua. Salah satu skill hidup yang saat ini mulai saya kenalkan kepada anak saya (11 tahun) adalah pelajaran tentang uang.

Saya merasa prihatin ketika melihat kenyataan sekolah tidak pernah mengajarkan tentang cara menghasilkan dan mengelola uang. Sedangkan di rumah, pembicaraan tentang uang seringkali masih dianggap tabu. Lalu dimana kita bisa belajar tentang uang?

Padahal, uang sangat penting. Tanpa uang, banyak penderitaan. Hidup bagai terpenjara. Saat tubuh ingin bersantai dan istirahat karena lelah, pikiran berkata “Ayo kerja, nanti ga punya uang ga bisa makan!”

Saat hati ingin liburan bersama keluarga, pikiran berkata “Jangan, liburan itu mahal. Di rumah saja!”

Saat anak ingin sekolah yang bagus, terpaksa bilang “Sekolah ini aja ya, ini juga bagus (murah)”

Saat makan di restoran, bukan sibuk melihat daftar menu tapi sibuk melirik daftar harga.

Mau membelikan hadiah pada orang tua ga bisa. Mau bersedekah, terpaksa bersedekah senyum saja. Miskin sangat tidak enak. Namun sayang, tidak pernah anak-anak diajarkan tentang uang.

Saya tidak ingin anak saya mengalami demikian. Setelah lulus sekolah baru kebingungan bagaimana cara mencari pekerjaan dan menghasilkan uang.

Maka saya mulai dari sekarang, dari pengertian yang paling dasar tentang uang. Menjelaskan bahwa uang adalah manfaat. Orang yang kaya adalah orang yang sudah bermanfaat untuk orang banyak.

Dari pola pikir tersebut, saya melatih anak untuk lebih bermanfaat dnegan cara mengerjakan aneka pekerjaan seperti memasak, membersihkan rumah, bekerja di kebun sayur, hingga membuat laporan keuangan sederhana dan memberikan gaji kepadanya.

Ada pekerjaan-pekerjaan yang digaji murah, ada juga yang digaji lebih tinggi. Pekerjaan yang menuntut lebih banyak berpikir, analisa atau kreativitas akan dihargai lebih tinggi dibanding yang mengandalkan otot.

Dengan cara ini saya juga ingin menyampaikan pesan kepada anak saya bahwa memang beginilah kenyataan yang ada di luar sana. Saat kita berkontribusi lebih berarti, maka nilai diri kita akan naik dan menghasilkan uang lebih banyak.

Apakah cara ini (memberi pekerjaan dan gaji) membuat anak menjadi ‘matre’ dalam membantu? Itu pendapat masing-masing. Tapi buat saya jawabannya adalah “Tidak.”

Justru anak menjadi lebih mengerti arti uang dan bisa menghargai dengan lebih baik kerja keras untuk menghasilkan uang. Terbukti dengan caranya memperhitungkan harga baik-baik saat membeli makan sendiri lewat aplikasi GoFood atau membeli ‘permata’ di games favoritnya.

Bagaimana dengan anda?
Apakah anda sudah mengenalkan dan mengajarkan tentang uang kepada anak, sebagai bagian dari mempersiapkan kemandirian mereka?

Renny Artanti
STIFIn Family & Business Trainer
Co Founder of Xcellence International