Pasangan Ideal

Banyak orang tua mengajarkan pada anaknya :

“Kalau cari pasangan itu yang baik, yang mapan dan seagama”.

Lalu ada berapa banyak anak baik yang menurut, mencari pasangan yang baik, mapan dan seagama namun kenyataannya hidup mereka tidak bahagia.

Sebagian dari mereka merasakan bahagia di awal permukaan pernikahan saja. Lambat laun perasaan bahagia itu menghambar lalu menghilang.

Muncul perasaan lelah satu sama lain, sendirian dan kekosongan yang akhirnya memberi jarak diantara pasangan. Dua jiwa yang menjadi satu oleh ikrar pernikahan, kini menjadi dua kembali.

Tentu saja ‘pelarian’ menjadi solusi terdekat dan termudah. Bisa kepada pekerjaan, hobby, kegiatan, barang sampai dengan perselingkuhan. Lalu berakhir dengan situasi saling menghakimi dan menyalahkan.

Benarkah satu pihak yang ‘merasa menjadi korban’ lebih baik dan lebih benar dari pasangannya?

Banyak orang tua tidak mengerti sehingga tidak mengajarkan kepada anaknya, bahwa untuk bahagia, seseorang mesti mencari jodohnya yang ‘sepadan dan sejalan.’

Sepadan artinya satu level dalam pola pikir dan kebutuhan dasar hidupnya.

Misal saja seorang pria yang punya cita-cita tinggi, ambisi , penuh semangat dan ingin hidupnya besar. Sudah pasti punya hasrat bertumbuh yang luar biasa. Hidupnya suka belajar dan bekerja keras, berani mengambil risiko dan suka keluar dari zona nyaman.

Bayangkan jika berpasangan dengan wanita ‘sederhana’ yang tidak punya cita-cita tinggi dalam hidupnya. Bahagia dengan kenyamanan dan kepastian, kestabilan, santai dan tidak suka keluar dari zona nyaman.

Sang suami merasa sendiri dan tidak didampingi istri menggapai cita-cita hidupnya. Sebaiknya, sang istri kelelahan terus didorong dan ditarik suami mengikuti keinginannya. Keduanya sama-sama lelah dan tidak bahagia.

Bisa juga terjadi sebaliknya. Sang istri punya impian besar dalam hidupnya, sementara suami justru tipe yang menghendaki kestabilan, ketenangan dan zona nyaman. Keduanya lelah dan tidak bahagia.

Sejalan artinya satu arah tujuan. Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika bersama pasangan yang satu arah tujuan.

Bagaimana bisa bahagia jika versi kebahagiaan suami dan istri sudah berbeda.

Misalkan bahagia suami adalah menjadi orang yang hidupnya besar dan bisa berkarya bagi sebanyak mungkin orang, sementara bahagia istri adalah berkumpul bersama suami dan anak, menjalani hari-hari dengan nyaman di rumah.

Mereka berjalan bersamaan, namun ke arah berlawanan. Masing-masing kembali merasa sendiri dan tak bahagia.
Walaupun keduanya orang-orang baik, mungkin mapan dan seagama.

Sedihnya, seringkali ketidakbahagiaan ini ditelan masing-masing dengan alasan tidak ingin bercerita pada orang tua atau ingin mempertahankan suasana rumah tangga yang ‘pura-pura bahagia’ untuk anak-anak. Namun dibalik itu, masing-masing berusaha melarikan diri dengan pilihan caranya sendiri.

Sebaliknya, ada sebagian pasangan yang sejak awal bersama hingga belasan atau puluhan tahun lamanya hidup sungguh-sungguh bahagia. Mereka menjalani keseharian hingga berbagi dan mengusahakan cita-cita hidupnya bersama.

Merekalah yang berhasil menemukan pasangan yang ‘sepadan dan sejalan.’ Mereka yang justru saat tidak bersama merasa kosong dan sendirian. Mereka yang merasa kuat dan tenang ketika bersama-sama.

Terlepas dari segala pengalaman kita bersama pasangan, sebagai orang tua yang mencintai anaknya tentu kita ingin anak-anak hidup bahagia, saat waktunya tiba mereka memilih pasangan hidup kelak. Mendapatkan pasangan ideal, yang ‘sepadan dan sejalan.’

Sayangnya pelajaran ini tidak didapatkan anak-anak dari sekolah, baik sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun biarlah mereka tetap menjadi anak-anak beruntung yang mendapatkan ilmu penting tentang hubungan ini dari kita, orang tuanya.

Renny Artanti
STIFIn Business & Family Trainer
Co-Founder Xcellence International Training