PAPA

Bisa karena terpaksa. Dan bisa karena terbiasa.
Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan situasiku saat ini.

Jauh dari Mama, jauh dari orang tua. Tak ada sanak saudara. Belajar me-manage segala sesuatu nya sendiri, dari makan, cuci baju dan segalanya, termasuk uang untuk transportasi.

Motor keluaran cina, pelek rising berwarna gold, setia menemani perjalananku. Dari kampus pulang pergi.

Aku sendiri kost di kota Gudeg, berteman kan Rania teman sebelah kamar dari kota asal yang sama.

Belajar adalah kegiatan rutinku selama menyandang menjadi mahasiswi. Meski hari libur, tanggal merah tak ada kata menyerah.

Berkutat dengan kertas tumpukan super tebal, bersahabat dengan buku pinjaman dari perpustakaan.

Oh iya hampir lupa, kenalkan aku Aisyah Purbandana. Lima bersaudara, dan aku satu-satunya anak perempuan di keluargaku.

Aku anak bungsu dan paling vokal di dalam keluarga. Di bandingkan dengan kakak-kakakku yang mayoritas adalah anak penurut, pendiam dan berprestasi dalam segala hal.

Aku gadis biasa, yang tidak terlalu hebat dalam hal pelajaran, namun segudang prestasi dalam hal seni dan olahraga. Meski tidak sehebat saudara-saudaraku.

Namun aku masih bisa di banggakan dan masuk dalam perhitungan persaingan prestasi.

Aih.. boleh lah aku sombong sedikit saja.

Papa bukan orang yang kolot, bukan orang tua yang galak, atau memaksakan kehendak. Papa orang yang demokratis.

Suaranya lemah lembut, sikapnya bijak, santun dan penyayang keluarga.
Beliau sedikit banyak memberikan inspirasi bagi kami anak-anaknya, bagaimana membentuk pribadi yang baik.

Kan, jadi rindu Papa…

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu