PAPA

Bagian 03

Di hari libur Papa memang sering mengajak kami anak-anaknya untuk berkebun, tidak hanya sekedar melihat, namun Papa mengajarkan kami bagaimana cara menanam, memelihara, dan menyayangi tanaman.

Papa seorang pegawai Kedinasan dari Perhutani. Tak heran akan kecintaan Papa akan tanaman.

Sayang beliau tak bisa menemani kami lebih lama, semua sudah tertulis oleh Tuhan.
Papa yang selalu mengingatkan, bagaimana harus bersikap dan berperilaku baik, tidak menyakiti perasaan orang lain.

Papa benar-benar mengajarkan kepada kami bagaimana belajar laku hidup.
Ah… Aku rindu Papa.
Setelah kepergian Papa yang begitu mendadak, tentu kami kehilangan nakhoda untuk beberapa saat, kami tak boleh lengah, terlena, atau larut dalam kesedihan.

Kapal kami harus tetap berlayar, kehidupan terus berjalan.
Meski nyatanya kami teramat kehilangan.

Sembab tak tak dapat di tutupi, sesak menghujam ulu hati. Namun hanya doa dan doa yang bisa kami panjatkan.

Mau tak mau aku kini menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tegar dan harus bisa menjaga diri dan kehormatan keluarga.

Nyatanya keterlibatan Papa dalam mengasuh anak-anak nya sangat berpengaruh, memberikan keuntungan positif bagi kami, aku khususnya.

Yang tidak mungkin di dapat dari orang lain. Kemampuan kognitif, pencapaian akademis, pyschological well-being dan tingkah laku sosial, Papa banyak ikut andil di dalamnya.

Sebatas mata memandang dari kejauhan, aku lihat Papa melambaikan tangan, seolah berkata “Baik-baik ya Nak, selalu ingat akan Tuhan”.

Perlahan air mata di ujung menggenang, menetes tanpa perlawanan. Ku biarkan basah.

Tamat.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu