PANEN PREMATUR

Sejauh mata memandang hamparan warna-warni memukau mataku. Segar dan menjanjikan untuk tambahan pendapatan. Benarlah kata para tetua, tak akan kerja keras yang mengkhianati hasil. Krisan-krisan itu siap kupetik, setelah tiga bulan lebih kurawat dengan penuh kasih. Besok, ya besok akan kuajak Adis untuk mulai menggunting batang-batangnya. Menyatukan yang putih dengan yang putih, kuning bersama kuning dan merah jambu dengan merah jambu.

Kutatap tanpa kedip rumpun krisan di ujung kebun bunga. Sepertinya ada yang aneh di sana. Mendekat perlahan agar tak mengejutkan. Sepertinya itu manusia dalam balutan sarung, kepala mereka sedang dipersatukan.

Bisikan itu terdengar perlahan, “ Aku akan memulai dari sisi kanan, ke arah selatan,”
Kudengar suara lain yang menjawab pelan, “Oke, aku akan mulai dari sisi kiri, juga ke arah selatan, kita bertemu di ujung kebun.”
“Baiklah, jangan lupa tutup semua mukamu” suara bisikan itu berbalas.

Kujilati bibir yang kering, apakah mereka para pencuri bunga yang akhir –akhir ini sering dikabarkan petani yang lain? Sedikit gemetar aku merunduk dalam. Rasanya tidak akan berdaya jika aku melawan mereka. Tubuhku yang kecil, pasti mudah untuk dikalahkan.

Kuraba saku celana bagian bawah. Aku ingat handphone kusimpan di sana. Benar. Benda itu masih ada. Para pencuri itu sudah mulai bergerak. Langit juga sudah mulai gelap. Matahari mulai beranjak keperaduan. Memencet panggilan nomor 1 aku langsung tersambung dengan Adis.

“Ada apa Kak?” suaranya menyambutku.

“Akak di kebun, bunga kita dipetik maling. Mereka berdua, laki-laki. Bisakah kamu cepat kesini?” sahutku.

“Ok, kakak jangan bergerak ya. Diam saja di sana. Aku berangkat segera.” Adis cepat tanggap. Aku yakin para pencuri itu akan tertangkap.

Duduk menunggu, kucium krisan kuning yang ada di depanku. Wanginya begitu menghanyutkan. Membawa bayang Ibu dalam pelupuk mataku. Ahhh… semoga beliau mendapat tempat terbaik. Anganku melayang kemana-mana, dan terhenti saat suara bak buk dari ujung kebun sebelah selatan terdengar keras. Hmmm sepertinya Adis telah menyelesaikan tugasnya.

“Akaaak…. Akaaak…” suaranya bergema
Aku menaikan tangan setinggi yang kubisa. Tubuh cebol ini tidak akan kelihatan olehnya.

“Ahhhh… syukurlah, akak tidak apa-apa kan?” suaranya dengan nafas pendek-pendek mendekati.

“Aman sentosa. Bagaimana, ketangkap mereka?”

“Sudah…, dibawa oleh Bang Halim dan Bang Didit.”

“Hayuuk pulang, banyak yang mereka petik?”

“Lumayan Akak, jadi besok dirimu bisa mengurangi tiga lajur karena sudah dibantu panen duluan oleh mereka, bagus kan?” sahut Adis sembari tertawa.

Aku tersenyum. Mendekati punggung Adis untuk digendong olehnya.

Kami meninggalkan kebun bunga, dan besok kembali untuk memetiknya.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita