Pancasila di Tengah Pandemi(Oleh: Agusriati, S.Pd, M.Pd.)

Negara Indonesia memiliki dasar negara yaitu Pancasila.  Pancasila adalah sumber nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia. Oleh sebab itu, seluruh tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia menggunakan Pancasila sebagai dasar moral atau norma dan sebagai tolak ukur baik buruk dan benar salahnya sikap, perubahan, dan tingkah laku sebagai bangsa Indonesia.

Sejarah Lahir Pancasila

Menilik jejak sejarah, bahwa konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan oleh presiden Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka.  Saat itu bung Karno sebutan untuk presiden Soekarno, mendapat giliran untuk berpidato menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka yang dinamakan Pancasila dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/BPUPKI). Beliau berpidato tanpa teks, tidak dipersiapkan secara tertulis, tetapi diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai. Dokuritsu Junbi Cosakai sendiri adalah badan yang dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang untuk menarik dukungan rakyat Indonesia. Dengan berpedoman pada pidato bung Karno ini, Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk panitia kecil yang disebut Panitia sembilan untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar.  Selanjutnya hasil rumusan tersebut dicantumkan dalam Mukadimah UUD 1945 yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai Dasar Negara Indonesia mlMerdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI.

Berdasarkan keputusan presiden nomor 24 tahun 2016, tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila dan hari libur nasional.

Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 sudah 3 bulan meluluhlantakkan negeri tercinta ini.  Wabah ini terus menjadi buah bibir, baik bagi masyarakat, perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah maupun bagi pemberitaan seluruh media di Indonesia.

Mengingat kenyataan semenjak diumumkan keberadaan Covid-19 pada awal Maret 2020 lalu, covid ini sangat meresahkan bahkan menjadi momok menakutkan bagi seluruh masyarakat. Dan tidak dipungkiri bahwa covid-19 telah meluluhlantakkan hampir semua sektor kehidupan.

Pada kesempatan ini penulis hanya sekadar memotret bagaimana Nilai Sila Pertama Pancasila di tengah merebaknya wabah Covid-19 ini. Karena sebagai bangsa kita membutuhkan kekuatan moral dan suntikan roh Pancasila dalam menyikapi peristiwa apapun termasuk dalam konteks Indonesia yang dilanda wabah pandemi covid-19.

Persebaran virus Corona belum mampu dibendung. Data terakhir yang dikeluarkan pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat jumlah penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19, pada hari Jumat 29 Mei 2020, ada sebanyak 678 orang, sehingga totalnya 25.216 orang.  Pasien sembuh menjadi 6.492 setelah ada penambahan 252 orang. Dan kasus meninggal menjadi 1.520,dengan penambahan 24 orang. 

Penambahan kasus ini tentunya membuat kepanikan.  Dalam QS An-Nahl, 112 dimaktubkan bahwa manusia itu adalah makhluk yang paling rentan merasakan kepanikan dan ketakutan, terhadap kelaparan, bencana alam  maupun kehilangan sesuatu. Hal inilah yang dapat disaksikan pada merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia.     

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Tidak lama setelah diumumkan Indonesia terwabah Covid-19 dan memberlakukan PSBB, Orang beramai-ramai membeli Alat Pelindung Diri (masker) dan aneka bahan makanan untuk kemudian ditimbun sebagai dampak panik buying dengan mengabaikan kebutuhan sesama. Satu kegiatan yang seharusnya tidak dilakukan bagi yang mengaku beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Fenomena yang kontroversi dengan jargon mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Pun ketika PP Muhammadiyah, PB NU, dan umat Katolik menyerukan agar masyarakatnya beribadah di rumah masing-masing untuk memutus mata rantai penyebaran Covid, umat Islam mengadakan pengajian di rumah, dan sholat Jumat diganti dengan sholat dhuhur di rumah, work from home, stay at home, dan PSBB.  Apa yang terjadi ? Beberapa warga tetap menerobos sholat di mesjid dan beribadah di gereja tanpa APD, nekat mudik/pulang kampung, dll. Memang beribadah sholat di mesjid lebih afdol dan lebih mendekatkan diri kepada sang Pemilik Alam. Akan tetapi menyelamatkan umat baiknya lebih di kedepankan di tengah situasi yang mengkhawatirkan dan tidak menentu ini. mencegah kematian atau meluasnya wabah lebih baik dilakukan daripada menuju tempat ibadah, tetapi aspek kemudaratannya lebih besar.

Seiring perkembangan corona, Ramadan dan Idul Fitri bagi umat Islam, telah dilaksanakan sesuai protokol kesehatan. Jemaah semakin sadar pentingnya mengikuti seruan para pimpinannya. Mereka juga mengeluarkan zakat dan Sodaqoh untuk dibagikan kepada yang berhak. Ini adalah bentuk empati, kegotongroyongan, dan kepedulian untuk membatu masyarakat yang terkena PHK karena pandemi. Bahkan mereka menghimbau pemerintah agar lebih tegas lagi dalam membasmi wabah. 

Masa Corona juga melewati 2 hari raya Nyepi untuk Hindu dan paska untuk kristiani. Umat Hindu dilarang untuk ke Wihara. Mereka juga dihimbau untuk tetap menaati aturan sesuai ajaran di kitab Suci Budha. Begitu pula dengan umat Kristiani tidak mengadakan kegiatan di gereja. 

 Di sinilah agama dan para petinggi agama berperan maksimal. Para kiai, pendeta, pastor,biksu, alim ulama, sesepuh mendidik dan memberi teladan untuk taat kepada para ahli ilmu kesehatan, keamanan,, kenyamanan, dan keselamatan warganya.  Para pemuka agama menjadi pemandu dan alat kompas masyarakatnya.

Rusaknya moralitas dan solidaritas rakyat mengakibatkan bangsa ini hilang identitas atau jati dirinya, sebagai bangsa yang memiliki keadaban yang tinggi.  Tentu nilai-nilai Pancasila tidak hanya dijargokan tetapi diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ikhtiar Membentuk Warga yang Berpancasilais

Potret realita religius masyarakat Indonesia di masa pandemi ini, menjadi indikator kuat bahwa dampak pandemi Covid-19 yang menggilas berbagai aspek kehidupan, tidak membuat Pancasila kehilangan nilai-nilainya khususnya Nilai Religius pada sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Perilaku luhur yang telah ditanamkan para pendahulu, serta nilai dan perilaku ideal, semuanya perlu dihabituasikan sebagai ikhtiar dalam membentuk warga negara yang pancasilais.

*Selamat merayakan Hari Lahir Pancasila*

nubarnulisbareng/ utyagusriati