Paiman Tertawa

Paiman Tertawa

Paiman duduk berjongkok di depan rumahnya. Sembari melihat beberapa ekor ayam yang tengah berkejaran. Ia mendengus, menunduk. Kesedihan tergenang di matanya yang kini berkaca-kaca.

Terbayang ucapan Ratmi–anak keduanya–semalam tentang pembayaran SPP. Meskipun, kini anaknya belajar dari rumah, akan tetapi biaya sekolah tetap harus dialirkan. Sang istri tercinta pun sudah beberapa kali menanyakan uang belanja, dan uang susu untuk anak bungsu yang masih balita.

Belum habis kegalauan laki-laki itu akibat terkena PHK, namun sudah harus dihadapkan pada kenyataan betapa uang sangat dibutuhkan. Perut kosong tak bisa menunggu lama, kehidupan terus berjalan tanpa peduli mampu atau tidak mampu. Perusahaan tempatnya mengabdi tanpa henti dengan loyalitas tanpa batas, terpaksa merumahkan seluruh buruhnya. Ya, SELURUH–termasuk Paiman. Makhluk kecil berukuran nano bernama Corona telah memporak-poranda kehidupan Paiman, juga masa depan keluarganya.

Samar terdengar suara berita dari televisi. Lima ratus tenaga kerja asing akan masuk untuk langsung bekerja di negaranya.

“Apa-apaan ini!” gerutu Paiman. Sementara anak pertamanya yang hanya lulusan SMA sulit mencari pekerjaan layak, lalu dirinya baru saja kehilangan pekerjaan, kini ia harus mendengar kabar tersebut.

“Edan!” Paiman berserapah.

Ibarat semut yang hidup di gudang gula, seharusnya dilimpahi kemakmuran tiada tara. Namun, entah mengapa justru sebaliknya. Para semut malah mati tergencet gula yang dimakan beramai-ramai oleh semut lain dari luar gudang.

Sekolah tinggi terasa sia-sia, manakala ijazah tidak ada nilainya. Memang ijazah hanya berupa selembar kertas berukuran A4 dengan beberapa deretan angka dan huruf di atasnya. Namun, angka-angka itu ternyata tak ada gunanya, jika dibanding dengan angka pada kertas kecil berwarna-warni.

“Si bungsu minum tajin saja dulu ya, Bu,” ujar Paiman pada istrinya semalam. Sebelum sebuah pesan masuk pada ponselnya yang memberi kabar duka. Sebuah berita yang lebih menyedihkan dibanding kematian. Paiman tidak akan mendapat uang pesangon. Perusahaan tidak sanggup membayarkan. Artinya ia dan keluarganya hanya memiliki nyawa sebulan lagi, hasil keringat yang diberikan pada saat perpisahan kerja.

Suara kokok ayam membuyarkan lamunannya. Kaki Paiman terasa kesemutan akibat terlalu lama berjongkok. Ia lalu bangkit dan memandangi sekitar. Tiba-tiba semua terlihat lucu baginya. Sebuah perasaan geli begitu menggelitik di perutnya. Lebih geli dibanding rasa lapar.

Sumber gambar: pixabay

Paiman mulai tertawa-tawa dengan bahagia. Lepas, tanpa beban. Entah dari mana datangnya keajaiban itu. Padahal beberapa saat lalu pikirannya masih terasa penuh. Kini, otaknya seolah kosong seperti botol-botol yang tak lagi ada isinya.

“Bapak kenapa?” Ratmi yang mendengar tawa bapaknya buru-buru menghampiri.

Paiman ingin menjawab pertanyaan anaknya, namun bukan sebuah kalimat yang keluar dari mulut. Ia lagi-lagi tertawa keras, lebih keras lagi. Ratmi pun seakan tersihir. Gadis kecil itu ikut tertawa bersama bapaknya tanpa mengerti apa yang mereka tertawakan.

“Ratmi, sedang apa?” tanya sang ibu yang sebelumnya ikut tertawa bahagia melihat anak dan suami yang tertawa.

“Tidak tahu, Bu. Tadi Ratmi ikut tertawa saja sama Bapak. Tapi, lama-lama bingung. Bapak menertawakan apa ya, Bu?” tanya Ratmi

Paiman mendengar percakapan istri dan anaknya. Ia juga mendengar jerit tangis anak bungsu yang kelaparan. Namun, apa daya, ia tidak dapat berkata-kata lagi. Laki-laki itu hanya mampu tertawa saja.

Tiba-tiba para polisi datang ke rumah Paiman. Mereka membawa kabar, anak sulung Paiman tertangkap polisi setelah mencoba mencuri sekotak susu dari mini market. Susu yang ingin diberikan pada adik bungsunya. Istri Paiman menangis, anak keduanya kelaparan, anak bungsunya tertidur setelah lelah menangis. Paiman … kembali tertawa.

Hidup memang sebuah lelucon. Kelucuan yang terkadang miris untuk ditertawakan, sehingga tak pantas dibuat banyolan. Namun, Paiman tidak lagi mampu merasakan hal lainnya. Tiada lagi tangis, atau kemarahan. Paiman hanya merasa bahagia, sebuah perasaan yang telah lama diimpikannya.

Hingga akhirnya ia berada di sebuah kamar serba putih, bersama teman-teman barunya yang juga suka tertawa. Paiman masih saja tertawa.

Nulisbareng/Asri Susila Ningrum