OXYMETER

“Sarah, ini Mama disuruh beli alat- alat ini. Kamu tahu belinya dimana?” tanya mama.

“Coba lihat Ma. Oh ini, gampang. Nanti Sarah ke Pasar Pramuka, cari di sana.” jawab Sarah. Tampak ada oximeter, PH meter, dan beberapa alat lainnya.

“Alhamdulillah.” ucap mama lega.

“Memang buat apa Ma?” tanya Sarah penasaran.

“Ini, Mama ikut klub diet untuk para penderita diabetes. Jadi nanti ada zoom meeting nya tiap hari. Sambil zoom sambil diukur pakai alat itu.” ujar mama menerangkan.

Esoknya Sarah membeli alat-alat yang dibutuhkan. Sempat mencari di beberapa toko karena ada alat yang tidak tersedia. Beruntung sudah lengkap semua hari itu juga.

Dua hari kemudian, acara zoom meeting pun dimulai. Sambil memasang oximeter di jari, mama mengikuti instruksi dari pelatih. Intinya ada olah napas bagi para peserta.

Di akhir acara, setiap peserta harus memperlihatkan angka yang tertera pada oximeternya. Mama pun kebagian giliran diabsen dan menunjukan jarinya. Selesai acara, mama mematikan gawainya.

“Ini aku angkanya 66, kok pelatihnya diam saja ya? tanya mama.

“Hah?!! Apa?! 66, yang benar Ma?” tanya Sarah panik. “Mama yang dirasa apa? Sesak? Pusing? Apa Ma?” cecar Sarah bertubi-tubi.

“Biasa saja, tidak merasa apa-apa.” jawab mama datar.

“Tunggu, coba Sarah lihat!” Sarah bergegas menghampiri mama dan melihat ke oximeter yang masih menempel di jari mama. Benar saja, tertera angka 66 di layar. Sarah tentu saja panik luar biasa.

“Ma, di bawah 90 itu sudah harus pakai oksigen.” Sarah berusaha mendekat lagi untuk melihat layarnya.

Ada

yang aneh, Sarah menamati layar pelan-pelan. Ya ampun, tulisan SpO2 ternyata terbalik.

“Mama, ini 99.” ujar Sarah lega. “Mama terbalik lihatnya.”

“Oh, jadi 99 ya?”

“Iya Ma.”

Fuih, Sarah merasa lega luar biasa. Bersyukur tiada terhingga. Sehat-sehat terus ya Ma.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie