Nikmat TuhanMu Yang Mana Lagi Yang Kau Dustakan

Sekarang kata ini menjadi viral “Mudik”, kata mudik sekarang banyak menjadi perbincangan, dari yang serius, ngebanyol  sampai yang menghujat dan menggosip

Bila ditahun – tahun yang lalu kata mudik menjadi suatu kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan saat mengucapkan kata itu, karena sudah terbayang betapa bahagiannya saat mudik, berkumpul dengan sanak saudara yang bertemu melepas rindu dalam kurun waktu setahun sekali.

Sekarang mengucapkan dan mendengarkan kata mudik langsung terbayang, raut wajah sang ayahanda dan ibunda tercinta, saat menanti kehadiran hadirnya cucu dan anak tercinta, terbayang wajah keriput keduanya, ada rasa rindu yang tidak tertuntaskan, sedih, kecewa, rasa yang  tidak mengenakan.

Bukan karena aturan pemerintah, bukan karena untuk menhentikan penyebaran Covid 19, bukan…., semua ini harus disertai dengan keimanan, pada Zat Illahi Rabbi. Ini kehendak Sang Maha Pencipta, inilah yang harus ada dalam diri ini.

Ketika seekor semut merasakan ada bahaya yang mengancam penduduk kampungnya, ia berkata ” udkhuluu masaakinakum… “masuklah kedalam rumah rumah kalian” QS : Al Naml : 18.

Nikmat TuhanMu yang mana lagi yang kau dustakan?, mungkin karena semua termudahkan untuk dilakukan, sehingga ada sombong kita dalam diri ini, ketika kita bisa menikmati kebiasaan dan suasana mudik  tidak disertai dengan syukur kita yang sesungguhnya pada Allah.

Nikmat TuhanMu yang mana lagi yang kau dustakan? Mungkin  ibadah kita hanya sekedar pengugur kewajiban saja dan kita belum benar – benar bertobat dan mengakui segala dosa dan aib kita yang Allah tutup hingga saat ini.

Aku tergantung  prasangka hambaku”, ataukah kita banyak berburuk sangka pada setiap kehendak Allah? bisa jadi itu semua penyebab kita tidak bisa memeluk tubuh ayah dan ibu kita yang sudah tua, melihat senyum bahagia mereka, melihat tatapan rindu yang membungkah, mencair bersama celotehan cucunya.

Akankah Engkau sampaikan umur kami dan orang tua kami hingga bisa kembali mudik di tahun depan ya Allah. Kembali kami mengimani setiap kehendakMu ya Rabb. Ampuni kami ya Allah.

Nubarnulisbareng/Nurfahmi