Never Give Up

Never Give Up

Menapaki langkah-langkah berduri.
Menyusuri rawa lembah dan hutan.
Berjalan di antara tebing curam.
Semua dilalui demi perjuangan.

Letih tubuh di dalam perjalanan.
Saat hujan dan badai merasuk di badan.
Namun jiwa harus terus bertahan.
Karena perjalanan masih panjang.

Kami adalah tentara Allah.
Siap melangkah menuju ke medan juang.
Walau tertatih kaki ini berjalan.
Jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan.

Wahai tentara Allah bertahanlah.
Jangan menangis walau jasadmu terluka.
Sebelum engkau bergelar syuhada.
Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah.

(Lirik Nasyid Jejak, http://semua-nasyid.blogspot.com/2011/01/jejak-maidani.html?m=1)

Terdengar nasyid ini berkumandang di salah satu gelombang radio, entah apa namanya, maklum sudah lama sekali tak menyalakan radio yang ada di rumah nenek.

Sekali dengar pun sudah bisa ketebak, lagu ini semangat dengan musik yang menghentak. Karena penasaran dengan liriknya akhirnya saya googling dan nemulah lirik seperti yang tertulis di atas.

Makna dari setiap kalimatnya cukup dalam seolah-olah mengoyak sanubari.

Bait pertama lagu ini terasa sekali lagu ini mengkiaskan langkah-langkah dalam menelusuri kehidupan kita menuju kampung akhirat. Setiap langkah tidaklah mudah, banyak onak duri yang menghadang. Terkadang harus berjalan dengan sangat pelan bahkan sesekali terpaksa harus merangkak bahkan merayap.

Terbayang bagaimana seorang pendaki gunung yang terus berjalan dengan menyusuri rawa, lembah, dan hutan. Berjalan menyusuri jalan curam yang berada di tepi jurang. Jika tak hati-hati bisa jadi tergelincir dan menjadi mangsa bebatuan yang tajam di dalam jurang. Namun, untuk mencapai sebuah tujuan semua itu harus dilalui, jika tidak, maka harus sudah bersiap tertinggal.

Begitu juga hidup kita ini, kita harus siap mengikuti semua lika-liku kehidupan yang bisa jadi penuh dengan perjuangan, tantangan, ujian, dan cobaan. Jika saja kita tak hati-hati maka harus rela tergelincir dan terjatuh ke dalam jurang kehinaan.

Lanjut ke bait kedua, semua itu memang sebuah keniscayaan. Kita adalah manusia lemah tak berdaya, kekuatan tubuh serba terbatas jadi wajar sekali jika merasakan letih dan lelah. Terlebih saat hujan dan badai merasuk di badan. Badai dan ujian yang seakan tak ada hentinya. Namun, ingatlah, Allah memberikan ujian yang tak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Jadi, seberat apa pun badai dan ujian yang menimpa kita, bertahanlah. Jangan pernah berfikir untuk menyerah. Yakinlah kamu akan kuat melewati semua itu. Bertahanlah, perjalanan kita masih panjang.

Bait ketiga dan keempat memberikan support yang luar biasa untuk para pejuang fii sabilillah. Tidak hanya di medan perang, namun pejuang keluarga, pejuang pendidikan, dan pejuang-pejuang yang lain. Jika dalam perjuangan itu jasad harus terluka, jiwa terkoyak, maka teruskanlah perjuangan. Jangan menyerah. Jangan menangis. Tegar dan terus bersiap siaga dengan berbagai kemungkinan yang ada.

Inna ma’al usri yusron. Sungguh bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Jangan berputus asa dengan rahmat Allah. Bisa, bisa! Kalian pasti bisa melewati semua ini.

Tulisan ini didedikasikan untuk seluruh pejuang yang berada di tanah air tercinta.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh