Nenekku Sang Petani Ulung

Ungkaian kata yang bisa ku ungkap untuk nenek superku adalah Engkau adalah wanita hebat. Usianya sekarang sudah 86 Tahun. Tetapi tidak menjadi penghalang buat beliau untuk memaksimalkan tenaganya di usia senja. Tak ada kata pantang menyerah dalam kamusnya, selalu beraktivitas selama beliau masih sehat. Saat beliau disuruh istrahat sama Allah karena sakit, selalu dimanfaatkan untuk mengaji diatas tempat tidur, ibadahnya tak pernah terlewatkan begitu saja walaupun badan tidak bisa digerakkan sama sekali.

Jika badannya sudah sedikit lumayan ringan, nenekku tidak akan pergi ke sawah. Tetapi cukup merawat tanaman bunganya saja di rumah. Kalau sudah lumayan sehat maka beliau tidak akan membuang-buang waktunya dan langsung pergi ke ladang. Padahal hasil ladang nenek begitu banyak, tetapi tidak pernah dijual,paling hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Selebihnya, beliau sedekahkan kepada siapa saja masyarakat yang lewat di ladangnya.

Biasanya nenek selalu ditemani oleh kakekku ke ladang dan kesawah, walaupun anak dan cucunya sudah banyak yang berhasil tetapi bukan alasan buat mereka berdua untuk berhenti bertani. Mereka tidak pernah merasa malu akan hal itu, sekarang Kakekku sudah tiada, tetapi nenekku selalu tetap bekerja dan bekerja tak kenal lelah. Dia tak pernah berpangku tangan begitu saja, menantikan pemberian dari anak dan cucunya, beliau selalu ke ladang dan ke sawah paling tidak untuk sekedar mengelurkan keringat agar badan tetap selalu fit.

Semua anaknya hidup diperantauan, hanya yang bungsu tinggal di kampung. Pernah Nenekku mau dibawa kerumah om ku di Palembang, tetapi beliau tidak mau, karena merasa nyaman tinggal dirumah tuanya yang terawat, bersih dan nyaman untuk ditinggali.

Menurut beliau, kalau pergi dengan anaknya, maka rumahnya akan tinggal begitu saja, lalu siapa yang akan merawat bunganya yang banyak, padahal semua teras dan halamannya penuh dengan bunga yang berwarna-warni.

Sekarang Aku dan suamiku lah yang sering menemani Nenekku ke ladang, karena sawah beliau telah diambil alih oleh keponakan kakekku secara sepihak. Kami pulang ke kampung sekali dalam seminggu yaitu setiap akhir pekan, kemudian kami akan pulang kembali hari Minggu sorenya. Aku dan suamiku sangat senang membantu Nenek, karena kami sama-sama hobi bercocok tanam. Bunga di rumahku juga lumayan banyak yang kami tanam di dalam pot.

Sekarang kami berada di sawah Nenekku yang sudah lama tergadai, alhamdulillah tanteku punya rezeki, beliau mengambil alih kembali Sawah Nenekku. Sekarang sawah tersebut sudah menjadi hak milik Nenek kembali.

Tidak terasa air mataku terasa hangat mengalir dipipi, melihat Nenekku penuh semangat menyiangi padi yang tumbuh dengan hijau dan suburnya. Nenekku memberi nama sawahnya sejak dulu dengan nama sawah rasak. Kalau dalam bahasa minangnya adalah sawah rasaki atau rezki dalam Bahasa Indonesia.