NENEK INAH DAN SANDAL JEPITNYA

NENEK INAH DAN SANDAL JEPITNYA

Sumber: Google

Apa yang Anda bayangkan dari gambar sepasang sendal jepit ini?

Ketika saya tunjukkan gambar ini kepada suami, jawabannya cukup singkat dan padat. “Ya, kalau lihat  sendal jepit rasa kearifan lokal ini yang terbayang adalah kreatif, unik, dan inovatif.” Jawab suami lugas.

Tapi kalau saya sendiri melihat gambar ini jadi teringat pada kisah seorang nenek yang menangis pilu gara-gara sepasang sendal jepit. Namanya nenek Inah yang memiliki rumah mewah alias mepet sawah.

Bukan sendal baru, keren ataupun  brand terkenal yang membuatnya lara. Barang yang ditangisi si nenek adalah sendal jepit sederhana, sudah lapuk dimakan usia, namun menjadi kebanggaan karena menjadi saksi mata bagaimana kerasnya perjuangan hidup di dunia fana ini.

Sendal yang setia menemani ke mana saja sang empunya pergi. Apalagi sejak si belahan jiwa kembali menghadap Illahi meninggalkan dirinya sendiri di gubuk reyot yang hampir ambruk. Tinggallah si sendal jepit yang menjadi teman bicara karena mengharap kehadiran anak cucu hanyalah sebuah angan-angan belaka.

Suatu hari, nenek Inah hendak berangkat ke kota. Maksud hati ingin bertemu dengan cucu pertama yang sudah sangat ia rindukan. Berbekal sayuran dalam keranjang hasil panen di belakang rumah, ia naik angkot menuju ibu kota.

Wanita renta yang rajin salat di musala itu pun menerapkan SOP serupa. Ketaatan pada sang Pencipta sudah mendarah daging dalam dirinya. Ketika ada yang tanya, “Kenapa nenek rajin ke musala?” Jawabannya sungguh tak terduga. Katanya ia merasa lebih nyaman karena bisa bertemu dan bicara dengan banyak orang. Sementara di rumah terasa hampa karena tak ada siapa-siapa.

***

Angkot yang ditumpanginya batuk-batuk, maklum sama-sama sudah berusia senja. Sesekali angkot minta berhenti, katanya encoknya mulai terasa padahal penumpang yang diangkut juga tak seberapa. Perjalanan yang seharusnya satu jam pun sampai akhirnya memakan waktu hampir tiga kali lipat lamanya. Untung para penumpang sabar dan berusaha menikmati tembang lawas yang diputar oleh pak sopir yang terlihat paling muda di antara mereka.

Singkat cerita, angkot waktunya purna tugas karena sudah tiba pada terminal akhir. Semua penumpang sudah turun kecuali nenek Inah. Ia sedang kebingungan sambil menggenggam erat keranjang sayur  yang diletakkan tepat di samping tempat duduknya.

“Ayo Nek, turun!” teriak pak sopir. Kalau ditebak usianya mungkin baru menginjak kepala tiga.

Ke heula Jang!” nenek Inah disuruh turun malah “hulang huleng” kayak orang kebingungan.

“Nek, ini sudah sampai, saya mau nyari makan dulu laper nih. Nenek turun dulu ya!” pinta si sopir, kalau nggak salah namanya Sumitra.

Ke heula Jang, nenek teh neangan sendal.” kata nenek Inah dengan muka masih bingung.

Atuh Nenek simpan di mana sendalnya?” pak sopir ikut bingung.

“Tadi mah memeh angkot jalan sendalna dileupaskeun na hareupeun lawang.” Nenek Inah menjawab dengan muka yang memancarkan harapan sendal akan segera ditemukan.

Rupanya karena nenek Inah rajin ke musala, kebiasaan mencopot sendal sebelum masuk musala terbawa hingga saat itu.

Si sopir menepuk jidat.
“Nek, sendalnya atuh hilang kalau disimpan di depan pintu mah. Kan angkot sudah jalan jauh dan meninggalkan tempat nenek nyimpan sendal tadi.” ujar sopir angkot gusar.

Tiba-tiba si nenek sesenggukan karena merasa kehilangan sendal kesayangannya. Tangisan pilunya menarik perhatian orang-orang yang ada di terminal.

“Nek, pakai sendal saya saja ya.” kata si sopir merasa kasihan dan malu sama orang-orang yang mulai melirik mereka.

“Sendalnya juga sudah usang kan Nek, kayaknya minta dilem biru tuh.” si sopir sedikit terkekeh melanjutkan ucapannya.

Sambil tersedu-sedu si nenek ngomel, merasa tak terima sendalnya dibilang usang.

Butut-butut ge sendal jepit kuring mah boga pasangan. Teu siga maneh ganteng-ganteng teu boga pasangan.” ucapan si nenek membuat Sumitra garuk-garuk kepala, dalam hati kecil ia membenarkan ucapan nenek Inah. Sumitra nyengir kuda walaupun kalimat nenek sempat mencubit hatinya.

_Wina Elfayyadh_

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week1day5
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup