Natas, Nitis, Netes.

Dahaga ini seperti terobati, bagai mereguk air yang jernih dan terasa sejuk. Terasa sampai ke kerongkongan, alhasil hawa damai nyess sampai ke ulu hati.

Ya, aku mendengar kan lawan bicaraku saat ini, aku mendengar kan dengan saksama, penuh khidmat dan penuh arti.

Sarat akan pentingnya arti kehidupan, penuh pesan yang tersirat. Aku belajar memahami dan membaca alurnya.

Sedikit aku terkesiap akan nasehat nya. Sepertinya aku di bangunkan dari mimpi indahku selama ini.

Belajar dan terus belajar, memahami dan terus menyerap, meski kata-kata itu tak di tuju kan untukku, namun aku tahu. Ini sungguh pelajaran berarti.

Aku sendiri mencoba untuk terus menggali, apa yang sebenarnya di cari dalam hidup ini.
Wejangannya terlalu berat bagiku, karena selama ini seolah aku hanya duduk diam, berpangku tangan dan mengibaskan tangan.

Aku tersenyum kecut, aku merasa kecil di hadapannya. Usia mendewasakan nya, aku pun ingin begitu.

Namun aku masih jauh, jangankan mengejar, menggapai sedikit saja masih terasa sulit.
Bukan karena tak mampu, mungkin diriku saja yang terlalu asyik dan terlena.

Malu…
Ya aku malu pada usiaku, harusnya bertambah dewasaku, karena memang dan harus. Aku hanya bisa berjanji dalam hati, selebihnya aku berdoa agar janjiku tak menguap begitu saja.

Betapa bijaksananya ia dalam setiap mengambil keputusan, betapa rendah hati nya ia dalam berperilaku, dan betapa sopan nya dia dalam mengolah emosinya.

Nyata, emosi yang membara dalam jiwa, ia redam dengan sebongkah senyum dan doa.

Karena semua itu akan di pertanggung jawab kan nantinya di hadapan sang Kuasa.

Aku ingin seperti itu. Menjadi manusia dewasa yang bijaksana. Tidak di perbudak oleh ego.

Karena pada dasarnya manusia iso mbiji tanpo ngerti, biso nyacati tanpo introspeksi diri.
“Manungso mung ngunduh wohing pakarti.”

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu