Namaku Salma

Namaku Salma

Perkenalkan, aku Salma. Bukan nama asli. Melainkan nama halusinasi. Ketika ada raja dan ratu, dewa dan dewi, pangeran dan putri, bahkan Rama dan Shinta, maka akan kuabadikan namaku dengan awal nama kita.

Apalah arti sebuah nama? Jika hanya membuat tersiksa. Ya. Tersiksa akan bayangan dan hayalan masa depan penuh warna dari perpaduan dua rasa.
Indah tapi semu.

Bahkan di saat kini kita semua dihadapkan pada situasi kepanikan wabah yang meraja lela, seakan itu semua adalah bumbu dari setiap episode yang akan kita hadapi. Dan lebih parah lagi, jika para dewa dan dewi bertemu di alam kayangan, raja dan ratu bertakhta di singgasana, maka kita hanya bertahan di dunia yang berbeda. Bukankah itu sebuah kemustahilan?

Sal, aku duduk di sini. Mengingat kala engkau selesai meracik dan meramu menu mimpi. Aku hanya tersenyum meantikan hadirmu dalam jamuan makan siang di kota itu. Di tengah desakan para pembeli yang hilir-mudik di pasar. Kucari bayangmu di sana. Walaupun hanya menilik sekilas dari balik kerumunan manusia, engkau ada, dan itu sudah cukup bagiku. Konyol, bukan?

Jika aku boleh meminta. Bawakan aku sepucuk tinta emas untuk mengukir kisah ini. Bawakan aku sekuntum bunga tujuh rupa dan benang tiga warna untuk mempererat ikatan ini. Jika ada waktumu, taburi bunga itu di atas singgasana kecilku. Akan kuganti dengan nyanyian sendu saat kita bertemu, jika tiba waktumu. Aku akan menunggumu.



RumahMediaGrup/MaySilla