MY MUDIK

Masa kecilku dihabiskan di kota Garut.
Lulus SMA kuliah di IKIP Bandung nge kos.
Jadi saya mengenal mudik ketika kuliah dulu.
Bersama teman teman lain se-kota Garut saya senang menikmati mudik saat jadwal perkuliahan sudah meliburkan masa libur Idul Fitri.

Senang? Tentu saja. Bahkan saya mengalami masa berdesak-desakan di bis umum sendirian terhimpit penumpang lain dan kebagian berdiri di tengah-tengah bis. Tak ada travel atau terpikir untuk naik kendaraan lain selain bis. Mungkin karena perhitungan faktor ongkos termurah hanya 1100 rupiah saja Bandung- Garut hehe…

Betapa tegarnya saya waktu itu. Tak mengerti, tak mengeluh, tak gengsi bahkan tak takut. Orang tua pun tak terlalu protektif sepertinya biasa saja tuh. Entahlah dalam hatinya. Mereka juga mungkin tak mengerti dan hanya pasrah mengikuti arus masa waktu itu memang umumnya seperti itu.

Tahun 1998 lulus kuliah. Tahun 1999 keluarga pindah ke Bandung semua.
Alhasil hanya mengenal mudik tahun 1993 sampai 1998 saja. Sejak 1999 tidak lagi mengenal mudik. Semua serba di Bandung. Kakek, nenek, Bibi, Uwa, semua pasti berkumpul keluarga besar di Bandung.

Lama waktu berlalu, saya berjodoh dengan orang Bandung. Beberapa tahun sejak pernikahan tak juga mengenal mudik. Hingga suatu waktu, mertua diboyong sama adik suami ke Tangerang. Tepatnya mulai tahun 2003 hingga 2010 bergantian kadang mertua yang berlebaran di Bandung atau kami yang berlebaran di Tangerang. Namun sejak 2010 lebih sering kami yang berlebaran di Tangerang.

Begitulah bertahun tahun kami melawan arus mudik. Tak pernah kena macet dan bahkan perjalanan saat masa mudik lebaran, Bandung menuju Tangerang lebih lancar daripada hari hari biasa. Anak-anak bersukacita karena selain mereka bertemu nenek kakeknya, mereka juga kerapkali menikmati suasana kota Tangerang dan refreshing nya menikmati full of mall di sana. Jika orang lain kebanyakan mudik menikmati desa, kami mudik menikmati mall di kota Tangerang, hehe …

Sayangnya, tahun 2020 kemarin kami tak lagi bisa mudik ala kami seperti biasanya. Jalur Bandung Jakarta Tangerang dan sebaliknya, seperti jalur “berbahaya” yang tak ada kompromi sama sekali. Benar-benar lockdown tak memungkinkan curi curi jalur ke arah sana. Jadinya tahun ini juga sudah pasti kami berlebaran hanya di Bandung saja. Kami mengikuti anjuran pemerintah demi kesehatan kami katanya. Bahkan demi kesehatan warga negara Indonesia. Lebaran yang begitu berarti bagi kami karena bisa menikmati suasana berbeda dari biasanya sementara tidak lagi kami rasakan. Tapi jujur kami tidak “kabita” menikmati piknik di kota kami yang katanya tempat wisata lokal pada dibuka. Rasanya jadi seperti sekolah ya, lebaran pun ada sistem zonasi. Hanya bisa menikmati Bandung dan sekitarnya saja ah…

Baiklah kami hanya bisa berhusnudzon dengan semua kebijakan dan bersabar menahan perasaan. Jadi kebayang yang benar-benar ingin mudik dan yang ingin dimudiki, hm …apa kabar para emak emak dan abah abah di kampung halaman yang selalu menunggu putra putri dan cucu tersayang, yang sudah biasa menyiapkan opor serta masakan khas lebaran lainnya? Sabar ya mak, ya bah, kami bukan tak mau sungkem tapi beginilah adanya sementara ini.

Semoga badai covid segera berlalu. Aamiin.

Foto : kue lebaran prematur, udah dibuka sebelum waktunya 🤭😀😀

NubarNulisBareng/Lina Herlina