My Dear Wife

Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan ….

Bulu matanya lentik dengan alis yang tercetak tebal alami. Bibir mungil kemerahan dengan tutur kata yang selalu lembut. Bola mata besar dengan iris coklat hazel, selalu menatap dengan binar membara. Dia sungguh memesona.

Larasati Dewi Shinta, itu nama wanita yang kuceritakan. Kami sudah berumahtangga selama lima tahun. Di mataku, ia sempurna, bukan hanya rupa tapi juga hati. Namun, sampai hari ini, rasanya belum bisa menjadi pendamping yang sukses membahagiakannya.

Rumah tangga kami sekilas memang diselimuti keberuntungan. Sudah dikaruniai satu putri menggemaskan yang juga cerdas, juga materi yang lebih dari cukup. Entahlah, aku merasa ini semua belum lengkap.

Mungkin, orang yang melihat kehidupanku akan merasa iri. Istri cantik, karir sukses, anak cantik dan sehat, rumah dan mobil sudah ada. Apalagi yang biasanya diharapkan masyarakat?

“Sudah lima tahun, Sayang. Aku masih belum mampu menggenggam hatimu. Untuk apa ini semua? Aku punya ragamu, kita terikat dalam pernikahan. Tapi cintamu masih terpatri untuk pria itu,” lirihku suatu malam, setelah Laras menidurkan anak kami.

“Kamu kan sudah tahu jawabannya, Mas. Kenapa harus dibahas lagi?” Laras mengenikkan bahu kemudian berjalan kembali ke luar kamar, pasti memilih tidur dengan anak kami.

Ah, ini salahku. Dulu hanya berpikir ketika restu orang tua Laras bisa didapat, maka hatinya pun pasti bisa terpaut pada suami pilihan orang tuanya. Nyatanya, salah. Laras memang lembut, baik, penurut, tapi aku tetap tidak bisa memaksanya jatuh cinta denganku.