MUKENA DARI BAPAK

Kenangan terkadang menjadi satu satunya hal yang hanya bisa didekap setelah seseorang yang sangat bermakna dalam hidup terlebih dulu pergi dari sisi .

Ya, mungkin itu adalah kenangan tentang ibu, tentang bapak, tentang kekasih, tentang apapun. Kenangan bisa berupa benda atau berupa cerita. Namanya kenangan, semua hanya ada dalam ingatan namun seakan bisa menjadi penghubung dunia di sini dengan dunia di sana. Dunia yang saling terpisah oleh takdir yang berbeda.

Sebagai anak yang besar tanpa asuhan seorang ayah (aku menyebutnya bapak) karena badai perceraian, tak banyak kenangan cerita yang kupunya. Bapak yang sulit kugapai, Bapak yang tak pernah memberi peluk, Bapak yang entah mengapa seperti berada di dimensi lain, memang tak menghadiahkan kenangan cerita indah untukku. Tapi ada satu benda pemberian bapak yang kuabadikan dalam ingatan, sebuah mukena sederhana yang baru kusadari kini bahwa itu adalah bukti adanya ikatan antara aku dan bapak.

Aku yang dulu tak mengerti bahwa ada luka lebam parah pada hatiku, aku yang dulu tampak pasrah pada kenyataan namun sebenarnya menyimpan amarah, aku yang dulu hidup manis seolah tak pernah protes pada Tuhan, rasanya sungguh tak menyangka di masa dewasa akan banyak bertanya pada Tuhan.

Ya, karena ketidaktahuanku, aku terlambat menyadari arti penting kehadiran Bapak saat masih ada. Jiwa kecilku hanya mengibarkan bendera kemarahan dan ketakutan untuk sekedar menjalin komunikasi seutuhnya sebagaimana sebenarnya aku bisa berjuang untuk mendapatkan hakku disayang bapak. Kini, aku berusaha keras mengingat memori kebaikan apa yang bisa menguatkan diri bahwa seburuk apapun hidupku, aku adalah seorang anak normal yang punya bapak.

Jadilah aku menjelajah ke masa lalu dan tiba di satu momen bahwa aku pernah diberi mukena oleh bapak. Mukena sederhana yang saat itu kurasa aku punya yang lebih bagus dari itu. Tepatnya kapan momen itu aku lupa, yang jelas aku sudah usia SMA atau kuliah karena aku baru bertemu bapak saat SMP. Bahkan akupun lupa apakah saat itu aku bahagia atau biasa saja. Yang kuingat mukena itu kusimpan rapi dan tak pernah kupakai karena takut rusak dan ingin selalu baru biar sama seperti saat pertama kuterima dari bapak.

Lama waktu beranjak terus ke masa depan. Aku berpindah pindah kos saat kuliah, berpindah kontrakan hingga sampai punya rumah sendiri saat sesudah menikah. Begitulah hingga mukena itu raib mungkin terhibahkan saat aku memberi baju-baju yang sudah kekecilan atau sudah jarang dipakai. Entahlah. Entah aku yang terlalu sibuk, terlalu cuek atau tidak menganggap benda itu akan sangat berharga saat kukenang kini. Yang jelas, kenangan tentangnya telah tercatat di benak ini dan aku tak bisa lagi melihat wujud mukenanya yang mana dan seperti apa. Saat ini hanya bisa mendoakan seandainya mukena nya dimiliki seseorang semoga memberi manfaat dan memgalirkan pahala ke Bapak di alam sana. Aamiin.

Setiap mengenang bapak, aku hanya selalu bisa minta maaf dan maaf. Walau hanya bisa terucap di hati, semoga Allah menyampaikannya ke Bapak yang sudah dalam dekapanNya.

Bapak, maafkan tak kusimpan mukena pemberianmu dulu. Aku tak pernah peka memahami perasaanmu saat memberikannya dulu. Mungkin sebenarnya itu pesan moralmu agar aku selalu menjaga sholat sepanjang hidupku. Atau kau ingin berikan harapan agar aku selalu mengingat dan mendoakanmu saat aku sedang sholat. Apapun itu, sungguh aku minta maaf bukan maksudku mengabaikan. Ternyata walau tak mengasuhku tapi kau tetap menganggap kehadiranku ada sebagai bagian dari hidupmu.

Kini, aku akan titip agar Tuhan menyampaikan salamku untuk Bapak. Aku berharap bapak tahu bahwa aku menerima mukena itu dengan bahagia. Terimakasih atas kebaikan dan ketulusanmu telah memberi mukena untukku. Semoga Bapak senang mendengar salam dariku ini. Aamiin. Alfatihah.

Catatan untuk para ayah, jangan pernah tinggalkan anakmu dan ibunya. Separah apapun badai bertahanlah karena luka pengabaian masa kecil tidak mudah pulih bahkan jika Tuhan memberikan kesempatan hidup sekali lagi pun, waktu pemulihan sepertinya tak pernah cukup.

NubarNulisBareng/Lina Herlina