Mudik

Mudik

“Bapak tahu akibatnya?” tanya seorang polisi


Pria empat puluh tahun itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya diam dengan kepalanya yang tertunduk. Suara kendaraan yang melintas dan pikiran yang berkecamuk, membuat ucapan polisi yang berada di depannya menjadi terasa samar.


“Mengerti, Pak?” Tiba-tiba polisi itu bertanya dalam nada suara sedikit menyentak.


Pria yang bernama Iskandar itu memandang dengan tatapan nelangsa pada sang penegak hukum. Ia tak tahu harus menjawab apa. Bila ia menjawab ya, tetapi apa yang harus dimengerti. Mengapa pula ia harus memahami? Sementara seluruh dunia tidak ada yang mau tahu tentangnya, kehidupan, serta kesulitan yang dihadapinya. Namun, jika ia jawab tidak, apakah polisi tersebut mau menerima? Padahal pria berseragam di depannya itu telah banyak bicara padanya.


Iskandar lagi-lagi hanya terdiam. Ekspresinya datar. Sungguh, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Di dalam pikirannya hanya ada satu tujuan, yaitu mudik.


Dua hari lalu, seorang teman yang selama dua belas tahun pernah bekerja bersamanya di sebuah perusahaan makanan ringan datang menemui.


“Kamu enggak kerja, Dik?” tanya Iskandar.


“Enggak. Aku dipecat semalam,” jawab Didik.


“Mendadak?” Iskandar tampak memastikan.


“Iya. Kalau gelombang satu masih enak. Kalian dikumpulin di lapangan, dikasih pengertian, wejangan, dan ucapan terima kasih. Lah, aku bagaimana? Pemberitahuan pemecatan itu saat tengah malam, ketika neng Kunkun mulai keliaran. Lewat Whatsapp lagi.” Didik menunjuk-nunjuk layar ponselnya.


“Terus, apa rencanamu sekarang?” selidik Iskandar.


“Belum tahu. Mau cari kerja lagi mungkin. Tapi, entah kapan bisa dapat dalam kondisi sekarang, sementara uang semakin menipis. Kita mudik saja, yuk,” bujuk Didik.


Mendadak seakan ada angin segar menerpa wajah kusam Iskandar, setelah mendengar saran dari Didik. Akan tetapi, kesegaran itu tidak berlangsung lama ketika ia ingat pembatasan wilayah yang sedang diterapkan di kotanya.


“Bagaimana caranya?”


“Besok pagi, Pak Imron rencananya mau nyebrang bawa molen semennya. Katanya akan ada proyek pembuatan tol.”


“Maksudnya … Kita naik mobil molen? Duduk di mana? Kalau ketahuan polisi karena mau mudik, gimana?”


“Pakai otak dong, Is! Kita duduk di tempat yang tersembunyi.”


Iskandar sebenarnya masih belum memahami tempat tersembunyi yang dimaksud temannya itu. Namun, ia menyetujui saja asal bisa mudik dan bertemu anak-istrinya. Masalah setibanya di kampung ia harus karantina mandiri selama empat belas hari, untuknya bukan hal besar. Bagi Iskandar, hidup dan mati telah ditentukan oleh Tuhan.


Jika Iskandar terus memaksakan diri tinggal di ibukota tanpa penghasilan, baginya sama dengan berada di medan perang tanpa membawa senjata. Sementara anak-istrinya di kampung membutuhkan dia untuk terus bertahan hidup.


“Ya, aku harus mudik,” tekadnya.


Pagi itu, hari yang dinantikan Iskandar untuk mewujudkan impiannya. Ia telah dijemput Didik untuk menuju kediaman pak Imron.


“Bawa uangnya, kan? Karena ini perjalanan berisiko,” ujar pak Imron yang dijawab dengan anggukan keduanya.


“Yuk, Is,” ajak Didik. Iskandar lalu mengikuti Didik memasuki sebuah lubang kecil yang telah sengaja disiapkan di sisi agak bawah tabung molen.


Di dalam tabung pengap itu telah menunggu enam belas orang lainnya. Mereka duduk beralaskan koran, sambil berkipas-kipas. Iskandar mencoba tersenyum dan menyapa penumpang gelap lain tersebut. Sebagian ada yang menjawab senyumannya, sementara yang lain diam memasang wajah datar.


“Mudik ke mana, Pak?” tanya seorang laki-laki berusia dua puluh tahunan. Dari gayanya, Iskandar menebak kalau ia seorang mahasiswa.


“Lampung,” jawab Iskandar singkat.


“Ibu saya sakit. Saya takut ini adalah kesempatan terakhir bisa bertemu dengannya.” Laki-laki yang bergaya seperti mahasiswa itu mulai bercerita. Ia juga memperkenalkan dirinya sebagai Roni.


“Awak pun terpaksa mudik, sebab awak tak lagi bekerja.” Seorang laki-laki bertubuh tambun menyahut. Persoalan kehidupan yang sama seperti Iskandar.


Entah sudah berapa jam berlalu. Iskandar tetap terjaga, sedangkan Didik tertidur. Kepala temannya itu terantuk ke kanan-kiri, lalu terjaga dan kembali lelap. Sepanjang perjalanan tidak ada cahaya, hanya sebentar-sebentar saja sinar dari ponsel menerangi mereka. Pengapnya udara di dalam tabung, membuat bau dari keringat para penumpang berbaur, mencipta aroma baru.


Tiba-tiba kendaraan itu berhenti. Suara seseorang mengetuk tabung molen terdengar. Ketukan itu menghasilkan pantulan yang menggema di dalamnya.


“Coba dibuka!” pinta seseorang itu.


“Sungguh, tidak ada apa-apa di dalamnya.” Kini suara pak Imron terdengar bergetar. Ada rasa takut yang tertangkap dari nada bicaranya.


“Kalau enggak ada apa-apa, kenapa Bapak harus takut?” tanya seseorang itu lagi.


“B-b-baik, Pak.”


Seberkas sinar mulai menyeruak. Kegelapan di dalam tabung molen berganti terang. Wajah-wajah berpeluh dan kehausan pun kini tampak.


“Bapak-bapak, silakan keluar!”

Seseorang yang dari tadi suaranya terdengar itu ternyata adalah polisi.
Iskandar, Didik, serta keenam belas penumpang gelap pun keluar dari dalam tabung molen. Udara di luar tabung terasa menyegarkan, seakan menemukan oase di tengah padang tandus.


Pak Imron tampak sedang mengeluarkan surat-surat kendaraan dari dalam dompetnya. Didik menangis meraung pada salah satu polisi. Penumpang lain tampak kebingungan karena diminta kembali ke asal mereka, dan dilarang mudik.
Iskandar masih melamun. Seakan sebuah mimpi baru saja ia alami.


“Pak, mengerti, tidak?” Polisi itu kembali bertanya. “Bapak tahu risiko yang akan diterima keluarga, jika masih nekat mudik?”


“Aku hanya ingin menemui anak-istri, Pak.” Iskandar memelas.


“Tolong ditahan dulu rindunya, Pak. Semua yang kita lakukan sekarang, sesungguhnya untuk melindungi orang-orang yang kita sayang. Sejujurnya, saya pun ingin mudik. Istri saya baru saja melahirkan di kampung halaman. Namun, kalau pulang, saya khawatir membawa penyakit dan malah membahayakan semua,” ucap polisi tersebut. Terlihat cinta yang menggenang di mata laki-laki berseragam itu.

Sumber gambar: pixabay, edit: pixelLab


Iskandar masih bingung. Ucapan polisi itu benar, menahan diri tidak mudik adalah salah satu wujud cinta pada anak-istrinya. Masalah perut, ia akan berjuang kembali. Akan tetapi, masalah nyawa, ia tak ingin menjadi penyebab untuk sesuatu yang akan disesalinya seumur hidup.


Iskandar ingin kembali ke kontrakannya, tetapi sudah tak ada sepeser pun uang di dompet. Sementara mobil molen tak lagi dapat ditumpanginya.


“Is, mau ikut, enggak?” Tiba-tiba Didik memanggil dari dalam mobil polisi. “Kita mau dianter pulang!”


“Oke!” Iskandar berlari menghampiri. Semoga Tuhan segera memberi rezeki berupa pekerjaan, harapnya di sepanjang perjalanan.

Nubar Nulisbareng/Asri Susila Ningrum