Mudik tak lagi sama.

Beberapa keluarga dan perantau mungkin merindukan mudik , setidaknya kita bisa bersua dengan keluarga di kampung halaman dan berpuasa bersama di hari pertama ramadhan. Namun apa daya, pandemi covid 19 sepertinya enggan mengizinkan kita berkumpul bersama keluarga di kampung. Sejak maret, pandemi covid 19 telah merajelela masuk ke Indonesia negeri tercinta. Tak dielakkan pemerintah dibuat “mati kutu” dengannya. Beberapa langkah ditempuh pemerintah dengan melarang berkumpul manusia – manusia yang dulunya hoby berkumpul hingga adanya kebijakan PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar ) dan kewajiban memakai masker. Namun di tengah pandemi covid 19, kedukaan merundung keluarga kami. Walau bisa berkumpul bersama keluarga di hari pertama puasa tanpa mama.

Sejak awal maret, saya dan suami sudah mudik. Tujuan kami adalah menjenguk mama yang sedang sakit diabetes. Melihat foto yang dikirimkan Kakak di kampung menjadikan hati ini teriris – iris melihat mama tercinta loyo tak berdaya. Seminggu beliau tak berdaya di rumah hingga membuat mama tak mampu berjalan lagi sebab kaki beliau luka karena tingginya gula darah dalam tubuh beliau yang renta. Tak diayal, pengobatan tradisional tak memberi hasil signifikan dengan kondisi kesehatan beliau malah makin membuatnya lemah. Namun mama adalah orang yang kuat. Tak pernah sekalipun beliau mengeluh sakit dengan kaki yang kian parah. Setiap hari, telaten ku bersihkan luka di kakinya. Bau busuk yang menyengat menbuat hati ini menangis. Tak mampu kubendung air mata setiap membersihkan lukanya. Luka yang dahulunya hanya di jempol kaki belaiu merambat ke punggung kaki beliau hingga membusuk dan penuh dengan ulat yang menggeroti daging beliau.

Ya Allah sembuhkan lah hamba dalam batin ku, namun 2 minggu beliau di rawat, kondisi beliau drop. Sempat ku tatap wajahnya dan membersihkan seluruh badannya hingga mengganti popok yang beliau gunakan. Dalam hati ku, berilah kesempatan beliau untuk hidup sehat. Setidaknya beliau dirawat seminggu di rumahsakit tak memberikan efek yang signifikan pada luka kaki beliau malah makin membuat parah. Beliau meminta kepada bapak tuk dipulangkan di rumah. 5 hari beliau di rumah tak membuat kondisinya semakin membaik, malah lukanya makin parah hingga ke betis beliau. Operasi pun disrankan oleh dokter. Namu setrlah 2 hari operasi beliau malah drop dan koma. Selepas koma sehari. Siang harinya beliau kembali koma hingga dokter menyarankan untuk memberi air wudu dan menuntun beliau.

Kami ebam bersaudara datang dengan mata yang sembab, tak hentinya kami menuntun beliau dalam sakaratul maut. Berharap sang Pencipta masih memberi kesempatan beliau dalam kehidupan dunia ini. Siang hari tak hentinya kami tadarusan di dekat beliau di kamar icu. Menuntun dan memeluk beliau, mengucapkan kalimat syahadat di dekat telinganya. Tak tahan diri ini melihat mama berjuang, ku putuskan keluar dari ruang ICU namun setelah magrib beliau makin drop hingga setelah isya, saya keluar bersama baoak dan adik ke 5 ku, beliau pergi meninggalkan ku untuk selama – lamanya, ku lihat perawat dan dokter berusaha memompa jantung beliau namun apa daya mama tak lagi bernyawa. Tumbanglah diri ini di pelukan kakak pertama ku. Beliau telah tiada, tiada lagi mama yang menlpon setiap hari menanyakan kabar cucu dan menantunya, tiada lagi yang membuatkan makanan kesukaan kami , tiada lagi kunjungan setiap bulan ke rumah kami. Ya Rabb, ampunilah ibu kami dna lapangkanlah kubur beliau. Aamiin…

K├Ępergian mama menyisakan duka mendalam buat kami di tengah pandemi dan ramadhan tahun ini. Ya Rabbana, ampunilah beliau.