Mudik On-line, Solusikah?

Mudik saat lebaran, sudah dinanti semua orang. Pasalnya, mudik sudah jadi tradisi tiap tahun. Bagi para perantau, hasil kerja berbulan-bulan disimpan hanya bertujuan agar bisa mudik saat lebaran. Jadi, rasanya ada yang kurang, jika mudik tak terlaksana.

Mudik dipahami sebagai kegiatan perantau/pekerja migran untuk pulang ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia, identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya idul Fitri atau lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. 

Bagaimana jika mudik yang sudah mentradisi kemudian distop? Tentunya ini akan mendatangkan masalah besar. Tapi ini harus dilakukan demi keamanan semua orang, baik pemudik maupun keluarga yang dikunjungi.
Terkait adanya wabah corona yang melanda negeri ini, pemerintah terpaksa mengeluarkan kebijakan larangan mudik bagi orang-orang yang bekerja di kota. Keputusan tersebut bertujuan untuk memutus rantai penyebaran wabah virus corona di Indonesia.

Sebagai tindak lanjut kebijakan ini, maka seluruh jajaran, mulai dari pusat maupun daerah sebagai satuan gugus tugas Covid-19 terus melakukan pantauan di setiap titik jalur perjalanan para pemudik. Bahkan jika ada pemudik yang nekat, akan dikenakan sanksi tegas. Dipaksa balik kembali, atau dikarantina selama 14 hari dengan tempat yang jauh dari kenyamanan.

Tahun ini, mudik hanya tinggal angan-angan. Keinginan berkumpul bersama orang tua, saudara, teman dan tetangga di kampung, tinggal impian. Tak hanya mudik, ibadah di bulan Ramadhan pun terasa berbeda. Semua harus dilakukan di rumah. Tak ada lagi tarawih berjamaah di masjid, tadarusan sampai larut malam di masjid, tak ada lagi acara sahur bareng ataupun buka puasa bersama. Karena semua harus saling menjaga, agar tidak menular dan juga tidak tertular. Semua harus dikerjakan di rumah.

Lantas, apa solusi yang bisa diberikan sebagai pengganti mudik? Jika tak bisa mudik secara fisik melalui perjalanan darat, laut maupun udara, maka masih bisa mudik melalui dunia maya. Kecanggihan teknologi mampu mendatangkan seseorang yang berada di tempat jauh, serasa dekat di depan mata. Bisa saling menatap, bercakap, tertawa, bahkan sampai menangis bersama. Tersedia berbagai aplikasi di media sosial sebagai sarana komunikasi. Tak hanya dua orang, namun bisa menjangkau sampai berpuluh orang. Di antaranya ada aplikasi call duo, meeting zoom, google meet, skype, house party, signal dan yang paling sederhana melalui video call WhatsApp.

Tetap harus bersyukur. Itulah yang harus dirasa sekarang. Masih sehat di tengah wabah melanda. Masih diberikan kesempatan berkumpul bersama keluarga. Masih diberikan kemampuan menjalankan ibadah puasa. Masih bisa menikmati Ramadhan meski dalam suasana yang berbeda. Dan masih bisa bertemu dengan anggota keluarga yang di rantau meski hanya on-line.

Tak masalah. Semua harus disyukuri. Meski raga tak bersama, tapi jiwa serasa menyatu. Harus saling menyemangati, agar semua bisa menghadapi wabah ini dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Tetap semangat mengisi ramadhan dengan sebaik-baiknya ibadah dan amal.

Masih mau mudik? Demi kebaikan bersama, mudik On-line sajalah…

Rumahmediagrup/ummutsaharo/ummuhanik/temamudik/mei1