Merindu Kasih Ibu

Bulir kebahagiaan hadir ditengah kedua orangtuaku tepat setelah aku lahir di dunia. Ayah sangat bahagia begitupula dengan ibu. Namun semua itu tak berlangsung lama semenjak ayah cuti dan meneruskan sekolah demi karirnya. Kenyataan ini tak bisa diterima oleh ibu. Selang umurku 4 tahun , ibu dan ayah bertengkar begitu alot dan panjang atas keputusan ayah. Ayah dan ibu terpaut 23 tahun, sifat ibu masih sangat kekanak – kanakan, semua itu membuat komunikasi antara ayah dan ibu semakin rumit.

Malam yang dingin ditengah lautan membuat ku semakin mengeratkan pelukan pada ibu, kami bermukim dipinggiran pantai hingga suasan dingin begitu mencekam. Hangat ku rasa saat berada dalam pelukannya. Namun sebelum ku terlelap, ayah memanggil ibu .

“Sayang, bisakah kita bicara sebentar? Tanya ayah dengan mata yang tajam pada ibu.

” boleh, 15 menit lagi saya keluar sebab surya belum tidur” ” baik sayang, aku kan menunggumu. Jawab ayah setelah mendengar jawaban ibu.

Sesaat kemudian, ibu pun keluar menemui ayah. Awalnya pembicaraan mereka baik – baik saja , namun setelah ayah menanyakan kesediaan ibu bertahan dengan nafkah secukupnya, ibu mulai menaikkan nada suaranya.

” engkau tahu sayangku, aku sekarang harus sekolah untuk menunjang karirku jadi nafkah yang sebelumnya banyak mungkin agak berkurang sekarang , saya mohon pengertianmu, dengan tatapan memelas ayah”

“Aku tak bisa terima bang, hidupku sudah terbiasa dengan nafkah yang kau berikan. Lantas abang mau memotongnya itu tak adil bagiku dan perawatan di salon kecantikan bisa terhenti bila abang mengambil keputusan itu” balas ibu dengan berapi – api.

Ibu lantas meninggalkan ayah sendirian karena kecewa dengan pernyataan. Ayah mulai berpikir untuk mencari bantuan ke saudaranya . Malam itu ayah menelpon kakaknya di pinrang.

Apa yang dilakukan ayah setelah penolakan keputusan dari ibu. Kita tunggu sambungannya.

Ummuizzahauni/merindukasihibu/Nubar. Nulis bareng./