Meraih Asa Yang Sirna

Bagian II

Meski secara pemeriksaan fisik maupun urine Rio negatif narkoba. Tapi hukum tetap menyatakannya sebagai tersangka dengan tuntutan ikut bekerja sama dalam mengedarkan obat obat terlarang.

Bersyukur ada seorang pengacara relawan yang mau maju sebagai pembela, Rio yang malang, miskin jelas tak punya uang tebusan akhirnya tiada pilihan lain untuk menjalani hukuman dipenjara, vonis 1tahun 8 bulan harus dilakoninya dengan terpaksa.

Hari hari pertama dalam lingkungan penjara adalah pengalaman baru bagi Rio, kesedihan yang mengungkungnya. Sering terlintas wajah sang ibu, siapa yang merawatnya? Siapa yang memberinya makan dan menyuapkan nasi untuknya? Air mata Rio sering berlinang jika teringat akan hal itu.

“Ach, ibu…semoga Alloh senantiasa menjagamu.”
Desahnya memohon. Berpasrah atas kehendakNya.

Waktu demi waktu terlampaui, dengan sabar dengan penuh pengharapan agar bisa segera keluar dari kamar pesakitan. Intimidasi dan ancaman teman teman dalam satu sel tahanan dilaluinya dengan pasrah. Tiada yang membesuk palagi yang mengirimi rantang rantang makanan menu kesukaan dari keluarga, meski demikian Rio tak pernah mengeluh.

Rutinitasnya setiap hari harus membersihkan kamar mandi, sangat akrab dengan aroma khas pesing bau kamar mandi. Bahkan wajib mencucikan baju baju 30 orang teman satu selnya sebagai hukuman Rio yang miskin, yang tidak pernah punya uang untuk sekedar berbagi rokok ataupun membeli sendiri peralatan mandi maupun cuci. Jika menolak maka siap ditelanjangi dan dibuli, jatah makan siang piring ompreng akan dikencingi, bahkan suatu ketika kegaduhan pun terjadi karena Rio berteriak teriak menolak dan mempertahankan diri dari predator sodomi.

Waktu seakan akan berjalan begitu lambat, tetapi Rio sabar menjalani. Ibu..ibu..dan ibu yang ada dibenaknya.

Tak terasa satu tahun lebih tiga bulan sudah terlewati. Karena semasa di tahanan Rio berkelakuan baik, malah cenderung lebih religius, maka mendapat potongan masa penahanan.

“Selamat yo, besok pagi adalah hari kebebasanmu. Aku tahu kau sebenarnya anak baik yang hanya saja salah memilih teman, sehingga kau sampai terdampar di sini.”

“Ya pak, saya juga mengucapkan terimakasih, pada bapak karena sudah berbaik hati kepada saya selama ini.”

“Apa rencanamu selanjutnya setelah ini?”

“Belum tahu pak, yang jelas saya ingin menemui ibu saya dulu, setelah sekian lama saya tinggalkan saya ingin sekali segera menemuinya.”

“Memang engkau anak yang baik Rio, bapak ada berita bagus untukmu, kemarin adik sepupuku menelfon katanya butuh mandor sebagai pengawas di perkebunan sawit miliknya, cuman berada di luar pulau jawa, gimana menurutmu yo?”

“Eh..aa…ya..pak terimakasih, cuma saya tidak bisa jauh jauh dari ibu saya.”

“Itu masalah gampang, ajak ibumu ikut serta, di kebun sana sudah tersedia rumah rumah petak untuk pekerja, khusus untuk kamu aku usulkan biar dapat rumah satu yang bisa kau tinggali berdua bersama dengan ibumu, dan gajinya juga lumayan. InsyaAlloh cukup untuk bekal hidup kalian. Bagaimana, kamu mau apa tidak ?”

“Betulkah pak ? Kalau keadaannya seperti itu saya mau banget kapan saya boleh bekerja?” Tanya Rio bersemangat.

” InsyaAlloh lebih cepat lebih baik, kalau misalnya kalian berangkat minggu depan apa kamu siap yo? Jadi masih ada waktu satu minggu untuk kamu dan ibumu bersiap siap untuk pergi, masalah tiket dan biaya keberangkatan biar saya yang tanggung, plus saya uruskan juga. Terus ini ada oleh oleh baju baru untuk ibumu serta sampaikan salamku padanya.”

“Alhamdulillah… Terimakasih pak, bapak memang betul betul baik kepada saya, semoga Alloh membalaskan kebaikkan bapak dengan limpahan banyak pahala. Kalau begitu saya permisi dulu pak, mau siap siap buat besok pagi, rasanya sudah tak sabar saya ingin pergi melangkahkan kaki, menemui ibu saya dan memeluknya, serta menyampaikan hadiah dari bapak.”

Sebelum meninggalkan ruangan itu rio bersalaman dan mencium tangan pak sumarto, kepala penjara yang sudah lama menjabat ditempat itu.

Pagi yang cerah, memakai kemeja putih dan celana biru tua, meski warnanya sudah pudar tapi tampak bersih dan rapi. Beberapa langkah setelah melewati pintu gerbang lapas. Langkah Rio berhenti, dia bersimpuh sujud syukur kepada illahi.
.

.

Sesampainya dirumah,

“assalamualaikum!”
Bergegas rio mencari ibunya masuk kedalam rumah, sambil setengah berteriak memanggil manggil

“ibu…ibu, dimana ibu berada? Ini Rio bu, Rio pulang.”

Tapi Rio tak menemukan ibu kandungnya, suasana rumah sepi tiada tampak siapapun juga. Terlihat kumuh dan berdebu.

“Ach lebih lebih baik aku tanya sama budhe lasmi aja, barangkali tau akan keberadaan ibu.” gumamnya seorang diri.

Berjalan kearah beberapa rumah, Rio mengetuk sebuah pintu.

Bersambung

LellyHapsari/RumahMedia