MENULIS DI TENGAH KESIBUKAN

Menulis di Tengah Kesibukan

Untuk menjadi seorang penulis, jangan pernah lelah untuk belajar dan memperkaya ilmu terkait kepenulisan.

Jika teman-teman suka menulis, lanjutkan!

Dengan tulisan kita bisa membuat sejarah dan prasasti yang akan abadi walaupun kelak kita sudah tak lagi menginjak bumi.

Malam ini, saya ikut kelas menulis online dengan para master. Agar tidak lupa dan bisa menjadi rujukan kembali (maklum kalau nyatet di buku suka keselip entah kemana), jadi resume-nya saya tulis di sini.

Berikut catatan materi yang saya terima malam ini bersama master Eka Wardhana:

Berbahagialah orang yang sibuk, menandakan dirinya memiliki makna kehidupan. Kata kerja merupakan penyerta dalam sebuah kalimat subyek-predikat-keterangan. Hanya kata subyek, maka tak bisa disebut sebagai kalimat.

Mengapa kesibukan sering dipermasalahkan ketika berhubungan dengan menulis? Apakah menulis merupakan gangguan dalam kesibukan?

Sebenarnya, sejak dulu semua orang sibuk. Dari yang sibuk itu, banyak pula yang masih sempat menulis di antaranya. Bahkan sebagian besarnya para penulis itu kesibukannya tidak berkurang. Para penulis di media utama adalah para pejabat yang kesibukannya tidak sedikit. Contoh, rektor Universitas Indonesia merupakan penulis produktif di harian Kompas.

Jika kita mendedikasikan diri untuk menulis maka tidak ada salahnya menyediakan waktu untuk menulis. Mengapa? Karena menulis panggilan jiwa, bukan keharusan atau paksaan, namun sesuatu yang terus-menerus membisiki batin untuk mengetikan jari di atas tuts.

Pak Eka juga mengingatkan peserta:

Boleh jeda menulis, namun jangan berpikir untuk benar-benar berhenti menulis. Mengapa? Begitu berhenti menulis, maka memulainya seperti menegakkan benang basah, susah dan butuh tenaga ekstra.

Jika dirimu sibuk, orang lain sibuk; maka beda antara dirimu dengan orang lain adalah dirimu mampu mengatur waktu dan perhatian untuk menulis sementara orang lain tidak bisa.

Semua orang mendapat jatah sama: 24 jam, tujuh hari sepekan. Satu bulan, satu tahun dan seterusnya. Bedanya, kita mengisinya dengan menulis dan tidak meninggalkan satu waktu pun berlalu tanpa sejarah menulis. Coba pikirkan berapa waktu yang hilang karena tidak ada sejarah yang tercatat. Dan sejarah itu yang tertulis lho.

Entah bagaimana caranya, para penulis itu mampu menghasilkan karyanya dengan gemilang. Melalui proses yang tidak ringan namun ternyata mampu menyelesaikan tulisan demi tulisan. Artinya, selama tidak terkalahkan oleh kesibukan maka sesungguhnya karya dapat tercipta. Bukan begitu?

Kuncinya ada pada : kesibukan, aksi dan sikap. Banyak kesibukan namun sikap kita terhadap menulis seperti kebelet panggilan jiwa maka berlanjut ke aksi menulis. Begitu siklusnya, secara terus menerus.

Menulis itu personal branding, semacam ukiran diri sendiri. Menurut istilah Henry Miller, “Writing it’s own reward;” menulis merupakan hadiah itu sendiri.

Konon kabarnya, orang yang mampu menyelesaikan pekerjaan itu orang yang sibuk lho. Yang biasa menganggur malah bingung bagaimana menyelesaikan pekerjaan, termasuk dalam hal ini menulis. Banyak lho yang berkeluangan waktu tak juga mengahasilkan satu pun tulisan.

Apa ciri orang yang mampu menyelesaikan tulisan di tengah kesibukan? Salah satu cirinya adalah kamu merasa terhibur dan orang lain terhibur pula dengan tulisan kita. Kamu benar-benar menikmati apa yang kamu lakukan saat menulis. Karena menulis itu mengembangkan karir dan potensi diri. Makin dikenal karena tulisan kita.

Demikian resume materi yang luar biasa ini, semoga menjadi cambuk saya pribadi untuk terus menghasilkan karya di tengah kesibukan yang ada. Tulisan sengaja saya buat italic karena itu murni ilmu dari beliau yang patut saya abadikan.

Selama ini saya beralasan susah mulai menulis karena kesibukan-kesibukan saya di dunia nyata maupun di dunia maya. Salah satu kesibukan yang selalu menggoda saya menunda untuk menulis adalah pekerjaan sekolah yang rasanya tiada ujung ditambah pekerjaan rumah karena saya tidak mempunyai ART dan si bungsu yang masih berusia 1,5 tahun. Dia sekarang sedang aktif ekspor dan sering cari perhatian saya. Seperti dia menagih hak untuk terus bermain bersama saya.

Setelah mendapatkan siraman ilmu dari Pak Eka Wardana, saya bertekad akan menulis sejarah saya sendiri bahwa saya akan menaklukan semua kesibukan dan menjadikan waktu lebih produktif. Sehingga di tengah kesibukan yang ada saya akan terus menghasilkan karya.

Saya ingin kelak ketika raga saya sudah tiada, tulisan saya tetap ada menjadi kebaikan yang terus mengalir.

Semoga tulisan ini bermanfaat.