MENULIS BUKU, SULIT?

MENULIS BUKU, SULIT?

Ah, kata siapa? Eh, tapi ini juga yang sempat saya bayangkan dulu. Sewaktu kuliah saya ingin sekali menulis buku, malah waktu jadi relawan Gempa Yogya dulu saya sempat bertemu orang Sulawesi (saya lupa namanya), dan dia sering minta saya menyunting naskah yang dia tulis.

Saat itu, saya sok-sok-an mengiyakan padahal kemampuan masih nol. Dari bakal calon naskah dan cerita dia, saya jadi belajar satu hal “nulis itu ribet”. Belum mikir idenya, terus nulis lagi, nulis lagi, setelah itu minta edit ke teman (sekarang baru tahu, seharusnya bukan edit ke teman tapi self editing). Setelah itu baru masuk ke penerbit. Kalau lolos alhamdulillah, kalau tak lolos berakhir di tong sampah.

Lantas saya mengubur keinginan untuk menulis? Enggak sih, lebih tepatnya menunda karena saat itu lebih prioritas menulis skripsi. Kemudian motivasi juga belum terlalu kuat untuk menggerakan tangan merangkai satu demi satu aksara agar menjadi kalimat bermakna.

Baru tahun 2018 saya berani terjun kembali ke dunia tulis menulis (10 tahun saya semedi dulu). Belajar nyebur pelan-pelan karena masih takut tenggelam. Ini persis kayak saya belajar renang. Pertama hanya nyebur kakinya doang, pelan-pelan mulai berani setengah badan, terus berlatih hingga mulai berani menenggelamkan seluruh badan.

Mengaplikasikan teknik dan ilmu yang sudah dipelajari. Stigma saya sewaktu kuliah terbantah karena ternyata menulis buku itu mudah.

Jika belum sanggup menulis buku solo, tidak ada salahnya menulis antologi dulu. Bagi saya antologi itu adalah ajang latihan menuju buku solo. Kalau antologi kan penulisnya banyak jadi untuk nama yang tercatat di Perpusnas tidak semua masuk, biasanya tertulis si A, dkk.

By the way, kalau mau cek nama kita ada di Perpusnas atau tidak bisa dicek di web-nya Perpusnas nanti bisa cari berdasarkan judul buku, pengarang/penulis buku, penerbit, atau ISBN. Contohnya ini saya search nama saya keluarnya begini:

Nah, kalau kita terus ngikut sama orang lain, kapan dong nama kita bisa muncul di Perpusnas? Terus gimana dong biar nama kita muncul juga di Perpusnas? Kuncinya saya bisikin ya, tapi jangan sampai ketahuan para MA lho, ssssttt …! Satu saja caranya, daftar jadi PJ event, insya Allah nama kalian bisa juga mejeng du Perpusnas. Ya, kalau tak mau mencoba menjadi PJ event, resikonya nama kita hanya muncul di cover buku saja.

Ternyata menulis itu mudah teman-teman, buktinya ini beberapa buku antologi saya yang sudah terbit dan insya Allah nanti akan bertambah.

Oh, iya, kata Pak Deejay juga menulis buku itu mudah. Hanya butuh 9 langkah saja. Mau tahu? Yuk kepoin aja di SINI, di sana beliau memaparkan bagaimana langkah mudah menuliskan sebuah buku. So, bagi yang merasa kesulitan, cuz aja langsung mampir dan simak penjelasannya Pak Deejay.

MSelain materi itu, banyak juga ilmu kepenulisan yang bisa teman-teman pelajari secara cuma-cuma di SINI. Yuk ah! Kapan mau mulai menulis dan menerbitkan buku?

_Wina Elfayyadh_

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week1day7
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup