MENJADI PEREMPUAN

Sebelum aku menerima segala hal yang belum bisa kuterima dalam hidup. Yang utama dan pertama adalah selalu berusaha menerima takdir bahwa aku adalah seorang perempuan.

Sampai usia 20 tahun bahkan kadang masih berkelebatan sampai saat ini. Rasa tak bisa berdamai menerima diri sebagai seorang perempuan. Meski perasaan suka terhadap laki-laki masih sangat normal adanya. Alhamdulillaah.

Keinginan menjadi lelaki lebih tepatnya menyerupai lelaki telah ada sejak usia sekolah dasar. Aku rasa menjadi lelaki akan sangat menyenangkan, dibanggakan, mendapat kebebasan dalam banyak hal, terhormat, bisa menjadi pemimpin yang diutamakan dan bisa melakukan banyak aktifitas fisik yang dipandang berat dan jadi hebat.

Katanya, perempuan tidak apa-apa tidak sekolah juga. Nanti, ujung-ujungnya ke sumur, dapur dan kasur juga. Perempuan itu, diam saja dirumah. Hmm, apa sekolah dan mempunyai wawasan dan bisa mengenali dunia luar itu hanya untuk para lelaki?

Katanya, hati-hati dalam bergaul dengan lawan jenis. Perempuan kalau sudah pecah ya sudah, hancur. Terus aku pikir, laki-laki boleh dong bebas gaul karena sekalinya mecahin pasti tak berbekas. Oh sungguh tak adil jika demikian.

Katanya, kalau kemana-mana perempuan itu harus diantar, harus dibantu. Tau kenapa? Jawaban yang entah bercanda atau bukan adalah karena perempuan itu wajib dilindungi karena dia lemah. Jawaban dari sebagian orang yang terlihat jelas olehku merendahkan dan meremehkan derajat perempuan. What? Benarkah demikian. Aku tak mau lemah. Meski perempuan tapi aku ingin kuat seperti laki-laki.

Katanya, perempuan tak perlu terobsesi memiliki penghasilan. Nanti kalau kaya, dimanfaatkan laki-laki. Begitu jawaban dari sebagian orangtua saat aku memiliki cita-cita bisa mandiri secara finansial. Nanti juga kalau sudah nikah ada yang biayain. Ah, menjadi wanita rasanya tak sebebas laki-laki.

Katanya, anak gadis tidak boleh makan ini, tak boleh minum itu, dan lain-lain. Loh, kok kenapa aku tak pernah mendengar banyak larangan untuk laki-laki? Enak ya jadi lelaki, gak banyak pantrangannya.

Lalu, Titin kecil dengan pikiran polosnya menanggapi semua itu dengan kekeliruan karena rasa tersinggungnya. Pada akhirnya, bukan berusaha menjadi sebaik-baik wanita tetapi justru perilakunya sempat berbelok dari fitrah yang seharusnya dijalankan.

Sampai akhirnya merasa tak lagi mengenali diri. Akupun merenung dan bertanya sampai kapan harus terus berada dalam kekeliruan ini? Sampai kapan melawan takdir Illahi? Kemudian mulai mencari tahu keistimewaan sebagai perempuan. Karena yakin Sang Pencipta memberi keistimewaan pada kedua jenis manusia di muka bumi ini. Tidak hanya kepada salah satu saja.

Pangalengan, 6 Juli 2021

Titin Siti Patimah