Mengusir kesepian

“Akak aku kesepian”

“Kenapa? Gegara di rumah aja?”

“Diantaranya mungkin.”

“Emang bagaimana rasanya?”

“Rasa kesepian? Kok Akak ngak tahu? Emang nggak pernah kesepian ya?”.

“Jawab aja. Emang rasanya gimana?”

“Hmmm, rasanya terisolasi, nggak ada teman, sepi. Nggak bisa bercakap dan tidak ada hubungan yang pas, yang mengasyikkan. Ngak nyaman lah Kak,”

Kesepian itu adalah pengalaman yang tidak menyenangkan. Biasanya berkaitan dengan hubungan sosial yang secara kualitas tidak sesuai harapan. Jenisnya bisa emosional dan ini berhubungan dengan keintiman dalam hal kasih sayang. Bisa juga sosial, yang berhubungan dengan kehilangan rasa integrasi atau keterlibatan sosial dengan lingkungan.

“Akaaaak.” Suara dari android menyadarkanku.

“Ups. Sorry dear. Kondisi saat kita terisolasi memang bisa saja melahirkan rasa kesepian. Tapi kamu kan bisa ngobrol kayak gini atau chat dengan teman-temanmu. Oh ya… bukannya kamu punya teman dekat?”

“Pacar? Aku dah putus Kak, sejak awal tahun .”

Kehilangan pasangan bisa memicu lahirnya kesepian.

“Ok. Apakah rasa kesepian itu memengaruhimu?”

“Emang pengaruh kesepian seperti apa?”

“Coba cek saja, sejak kapan kamu merasa kesepian, lalu apa yang terjadi sejak rasa itu muncul?”

“Hmmmm, sejak kapan ya? Sejak enggak keluar rumah?”

“Ok, apa yang terjadi sejak rasa itu muncul?”

“Uring-uringan, makan melulu, ah ya satu lagi batuknya nggak sembub-sembuh,”

Kurangnya interaksi sosial juga bisa jadi pemicu lahirnya rasa kesepian.

“Hmm, bagus Non, setidaknya kamu dah bisa mengidentifikasi kesepian yang kamu rasakan. Nggak apa-apa. Saat ini banyak orang yang merasa seperti itu. Kamu telpon Akak saja kalau mau cerita ini itu, jika memang ngak ada teman lain yang ingin kamu hubungi.”

“Berarti rasa ini masih normal ya? Ada yang perlu aku lakukan nggak?”

“Kamu sudah keren Non. Bisa jujur mengatakan kalau kamu kesepian itu hebat lho. Nah sekarang saatnya membuang rasa itu.”

“Bisa dibuang?”

“Bisa banget. Ngobrol kayak gini juga bisa mengurangi kesepian lho. Telpon bundamu, atau abangmu juga bisa membunuh kesepian. Ah ya dulu kamu punya banyak kucing. Apa kabar mereka?”

“Ok, aku akan nelpon, nanti. Kucing? Di sini nggak boleh punya binatang piaraan Akak. Aturan yang aneh ya.”

“Ohhh, kalau gitu ikut relawan yang bantu penanganan pandemi ini aja. Kamu punya alasan keluar rumah dan kamu bisa bantu orang banyak.”

“Ah..ya. Kok aku nggak kepikiran ya Kak. Hmmm terima kasih sarannya. Kampus emang ngebuka pendaftaran relawan.”

“Ok. Jangan pernah merasa kesepian ya. You’re not alone.”

“Ha ha haaaa… itu Michel Jackson Akak.
Love you, bye”

Aku tersenyum.
Noni seorang ekstrovert sejati. Bisa kubayangkan betapa ia terkungkung dengan kondisi lock down yang harus dijalani. Apalagi jauh di negeri orang sana. Aturannya juga lebih ketat.
Semoga ia bisa mengendalikan perasaan yang dimilikinya.

Aku pencet nomor telpon ibunya Noni.

“Salam tante. Apa kabar?”

“Duuhh… mimpi apa ditelpon orang sibuk nih.
Tante baik. Kamu bagaimana?”

“Baik Tante. Barusan ngobrol sama Noni. Sepertinya ia kangen rumah.”

“Iya kah? Sayang Noni nggak boleh terbang Tita. Nanti dia tante telpon deh. “

“Siip Tan. Tita kudu tutup dulu jih. Ada telpon masuk. Salam buat om ya Tante.” Aku memgakhiri pembicaraan, sebelum obralan menjadi panjang kali lebar kali tinggi. Misinya sudah tersampaikan.

Sebelum kesepian datang menghampiri hidupkanlah rasa syukur didalam hati, agar selalu disadari, betapa banyak hal baik yang telah kita nikmati.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita