MENGUMPULKAN PUING-PUING KENANGAN TERSERAH

Kasus 1.

Siang di bulan Ramadhan. Jam menunjukkan pukul 14.00Wib, saatnya mulai ke dapur mempersiapkan sajian untuk berbuka puasa. Oh ya, sekadar info aku mungkin diantara sebagian ibu yang demokratis dalam menyajikan menu makanan. Aku selalu menanyakan apa keinginan mereka.

“Kakak nanti berbuka mau lauknya apa?” Tanyaku.

“Telor balado, Bun!”

“Ok. Tapi kayaknya bumbunya ada yang kurang, harus ke pasar dulu. Gimana? Mau ganti menu lain?”

“Ya udah, terserah Bunda aza.”

“Deal!”

“Adik, nanti berbuka mau lauknya apa?” giliran adiknya yang ditanya.

“Chicken.” (Maksudnya ayam yang diselimuti tepung terigu)

“Ok”
“Ayah, nanti berbuka mau lauknya apa?”

“Tempe mendoan”

“Ok. Tapi kayaknya tepung terigunya tidak ada. Gimana mau ganti menu yang lain?”

“Emang menu lainnya apa?” Tanya adik.

“Telor ceplok, ayam goreng biasa, dan goreng tempe!”

“Yaaaaaa…..” jawab adik dan kakak kecewa.

“Jadi gimananya menu barunya deal?” Tanyaku memastikan

“Ya, terserah bunda saja.” Jawab si Kakak.

Kasus 1 ditutup.

+++++

Kasus 2

Sepertinya anak berdua ini sudah mulai paham dengan kode emaknya ketika menanyakan menu untuk makan. Seperti hari ini.

“Kakak berbuka mau sama apa?”

“Terserah Bunda!”

“Adik, menu berbuka lauknya mau apa? Beli jadi atau bunda masak?”

“Terserah Bunda!”

“Ayah, menu berbuka beli aja ya, kalau bulan Ramdhan kan banyak yang jualan dan banyak pilihan. Takutnya gak keburu. Sekarang udah sore dan Bunda belum siap apapun.!”

“Ayah mau masakan Bunda.”

“Tapi menunya seadanya persediaan yang ada dikulkas aja ya?”

“Ya. Terserah Bunda.”

Bedug magrib tiba. Semua sudah siap di meja makan.

“Bunda, lauknya apa?” Si Adik membuka tudung saji.

“Itu sudah Bunda siapkan semuanya di meja makan!” teriakku dari dapur.

“Hanya ini? Yaaaaa!” adik kecewa dia menyimpan lagi piring yang sudah dipegangnya.

“Kan kalian jawabnya terserah, waktu bunda nanya mau dimasakin apa.”

Si Adik masih cemberut.

“Alhadulillah De. Bersyukur yang lain mah belum tentu bisa makan. Dan ingat apa Kakak bilang?”

“Apapun masakan Bunda pasti enak, karena Bunda memasaknya dengan cinta!” kata mereka serempak. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Si Adik ahirnya bangkit dan dengan terpaksa makan apa yang terjadi di meja.

Giliran suami “Hmmmmmm …..” melihat menu yang tersaji di meja.

“Kan kata ayah terserah. Ya sudah Bunda masak seadanya aja yang ada di kulkas.”

“Ya. Ya. Apapun masakan Bunda pasti enak, karena Bunda memasaknya dengan cinta.”

“Terima kasih” kataku sambil tersenyum. Selesai mereka makan. Ku cium kening mereka satu persatu. Giliran aku makan. ueee…. Ternyata masakanku asin.

Kasus ditutup dengan merasa bersalah karena tak bisa masak.