MENGUBAH TAKDIRNYA, BISAKAH?

Mengubah takdirNya, bisakah?

Simak arti salah satu ayat Al-Qur’an berikut ini:

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Sudah hampir 3 bulan corona datang. Membuat suasana bumi Pertiwi tak kondusif. Dari yang awalnya panik berlebihan sampai pada beberapa kelompok masyarakat  merasa jenuh kemudian abai.

Kapan corona akan hilang?

Manusia bisa saja memprediksi. Ada yg bilang Mei, Juni, Juli, dan seterusnya. Namun, kehendak ada pada yang Maha Kuasa.

Lantas apa yang manusia bisa lakukan?

Usaha dan doa. Ya, setiap permasalahan hanya 2 hal itu yang harus menjadi fokus utama. Kuatkan asa bukan berputus asa.

Corona itu datang atas kehendak Allah. Itu merupakan takdir yang ditetapkan olehNya untuk manusia di seluruh permukaan bumi. Namun, Allah memberi kesempatan untuk manusia berusaha mengubahnya.

Beberapa hal sudah diusahakam oleh pemimpin negara Indonesia. Pembatasan Sosial Berskala Besar dilakukan, semua diarahkan untuk di rumah saja, larangan mudik diberlakukan, menutup tempat-tempat keramaian, dan usaha lainnya.

Tak perlu lagi dijelaskan bagaimana dampak dari keputusan tersebut. Sedih. Semua orang sedang dalam masa prihatin.

Namun, entahlah kenapa belakangan situasi bukannya membaik malah semakin runyam. Peraturan dibuat untuk dilanggar sepertinya memang sudah membudaya dan mendarah daging. Susah payah mengkarantina diri, tapi dalam sekejap semua seperti sia-sia.

Entahlah, mau salahkan siapa? Mau mengubah takdirNya, tapi sikap dan mental tidak bisa melakukannya. Ego, hawa nafsu begitu besar membuncah tak terasa menyakiti perasaan banyak pihak. Lupa mungkin dengan pasukan medis yang tak kenal lelah berkutat dengan musuh siang malam.

Sungguh kontradiksi.

Ramadhan tanpa tarawih berjamaah, tanpa i’tikaf di masjid. Namun, lihat… Coba lihat sekarang menjelang lebaran mall membuka pintu lebar-lebar menjajakan dagangan untuk berpesta di hari raya yang paling menyedihkan. Bahkan hanya karena salah satu restoran cepat saji akan ditutup saja hebohnya luar biasa. Datang berbondong-bondong demi konten semata atau sekedar agar dianggap eksis. Berlebihan!

Ada yang mengeluh tak punya uang, sulit makan, tapi bisa belanja baju lebaran.
Ada yang nekat mudik dengan berbagai tipu muslihat, tak mengindahkan protokol yang ditetapkan.
Ada yang tak mau dikarantina dan malah marah-marah.
Ada yang berbohong ternyata positif corona.
Ada yang kabur saat sudah di karantina.

Bagaimana Allah mau mengubah takdir bagi bumi pertiwi yang mungkin sebelum corona datang akal dan hati nuraninya sudah lebih dulu sakit. Bukannya mengambil pelajaran dan hikmah malah semakin menjadi sakitnya.

Coba tengoklah saudara kita yang juga ingin merayakan hari raya dengan baju bagus tapi tak bisa. Untuk makan saja susah dan hanya bisa mengharap bantuan tak telat datang. Pulang ke kampung halaman tak memungkinkan kecuali memang dipulangkan.

Corona sudah suatu kepastian. Berbahaya dan bisa merenggut nyawa. Usaha kita bisa saja berhasil jika melakukannya bersama-sama.

Ayolah kawan… redam egomu, tahan nafsumu. Mari ubah takdir bumi Pertiwi bersama-sama. InsyaAllah Indonesia bisa! Bukan lagi Indonesia terserah!

Nulisbareng/ibunyanajma

Foto o